Senin, 25 September 2017

Prinsip dasar dan jenis pelumasan

Prinsip Dasar Pelumasan.

Dua benda yang permukaannya saling kontak antara satu dengan lainnya akan menimbulkan gesekan. Gesekan adalah gaya yang cenderung menghambat atau melawan gerakan. Keausan material dapat dikurangi dengan mengurangi besarnya gaya akibat gesekan yaitu dengan cara menghindarkan terjadinya kontak langsung antara dua permukaan benda yang bergesekan. Salah satu cara untuk menghindarkan kontak langsung diantara dua benda yang bergesekan adalah dengan “menyisipkan” minyak pelumas diantara kedua benda tersebut. Cara ini dinamakan “melumasi” atau memberi pelumasan.

Prinsip pelumasan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: 

Pelumasan Batas. Adalah pelumasan dimana permukaan kedua benda yang bergesekan dipisahkan oleh lapisan pelumas yang sangat tipis sehingga pada beberapa lokasi masih terjadi gesekan diantara kedua benda tersebut. Lihat Gambar . 

Pelumasan Film. Dengan memberikan lapisan minyak pelumas yang lebih tebal (berupa film) diantara kedua benda yang bergesekan, tidak lagi terjadi gesekan diantara kedua benda tersebut. Prinsip pelumasan yang baik adalah pelumasan film. Fungsi utama minyak pelumas adalah untuk pelumasan, sedangkan fungsi lain yang tak kalah pentingnya adalah untuk pendingin, perapat, mengurangi korosi, peredam kejut dan kontrol.

• Sebagai Pendingin. Gesekan akan menimbulkan panas yang apabila berlebihan dapat menimbulkan kerusakan material. Minyak pelumas akan menyerap panas tersebut untuk dibawa dan dibuang di sistem pendingin minyak pelumas atau ke udara luar. 

• Sebagai Perapat. Pelumas dapat difungsikan sebagai perapat, misalnya untuk mencegah bocornya hydrogen dari poros alternator ke udara luar. 

• Untuk mengurangi korosi. Pelumas dapat mengurangi laju korosi karena membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam  sehingga kontak langsung antara zat penyebab korosi dengan permukaan logam dapat dihindari atau dikurangi. 

• Sebagai Peredam Kejut. Beban kejut dapat terjadi pada komponen mesin, diantaranya pada roda gigi. Lapisan minyak pelumas akan memperkecil benturan diantara permukaan roda gigi yang saling bersinggungan, sehingga dapat meredam getaran dan noise. 


Jenis Pelumas.


Sesuai wujudnya, pelumas dapat dibedakan menjadi Pelumas Cair (Minyak Pelumas), Pelumas Semi Padat  dan Pelumas Padat. 

Pelumas Cair (Minyak Pelumas). Jenis Pelumas Cair umumnya terbuat dari minyak mineral yang merupakan produk sampingan dari  penyulingan minyak bumi, atau ada juga yang dibuat dari bahan  sintetis. Di pasaran banyak tersedia berbagai merek minyak pelumas. Untuk mengetahui minyak Pelumas mana yang cocok digunakan, perlu diketahui karakteristik minyak pelumas tersebut yang merupakan gambaran dari sifat-sifat minyak pelumas. Diantara sifat-sifat minyak pelumas yang penting diketahui adalah: 

Viskositas (Viscosity) Atau kekentakan merupakan suatu ukuran yang menyatakan besarnya tahan cairan terhadap aliran, atau kemampuan cairan untuk mengalir. Viskositasnya akan tergantung dari temperature.apabila temperature naik,maka viskositasnya turun. SAE membedakan viskositas minyak pelumas dengan angka-angka SAE yang lebih tinggi menunjukan kekentalan yang lebih tinggi juga (lebih kental).

Indek Viskositas (Viscosity Index)  Merupakan ukuran dari laju perubahan kekentalan minyak pelumas terhadap perubahan temperatur. Indek Viskositas dinyatakan dengan angka 0 sampai 100 angka yang lebih kecil berarti minyak pelumas tersebut akan lebih cepat perubahan viskositasnya apabila temperaturnya berubah. 

Titik Tuang (Pour Point) Adalah temperatur tertinggi dimana minyak pelumas mulai membeku apabila temperaturnya diturunkan. Minyak pelumas yang digunakan pada temperatur rendah harus memiliki Titik Tuang yang rendah. 

Titik Nyala (Flash Point)  Adalah temperatur terendah dimana uap minyak pelumas akan terbakar apabila diberi sumber panas. Pembakaran berhenti apabila sumber panasnya dihilangkan. Minyak pelumas harus memiliki Titik Tuang yang rendah. 

Titik Bakar (Fire Point), Adalah temperatur terendah dimana uap minyak pelumas akan terbakar dengan sendirinya dan terus terbakar walaupun tidak diberi sumber panas dari luar. 

Sabtu, 23 September 2017

Sistem Air Pendingin Bantu (Auxiliary Cooling Water Sysem)

            Sirkit Air Pendingin Bantu

Sistem air pendingin bantu merupakan pemasok kebutuhan air pendingin untuk alat-alat bantu PLTU/PLTGU. Sistem ini menggunakan air tawar atau air demin sebagai media pendinginnya. Sirkulasi air pendingin bantu merupakan siklus tertutup sehingga sering disebut dengan sistem air pendingin siklus tertutup (closed cycle atau closed loop). Karena menggunakan air demin, maka airnya bersih, sehingga biasanya hanya dipasang satu saringan. 

Sisi hisap pompa mendapat umpan (pasokan) dari air balik yang lebih panas atau dari tangki pendingin (head tank). Pendinginan air dilakukan pada sisi tekan pompa sebelum didistribusikan ke pendingin-pendingin (oil cooler, compressor cooler, dan sebagainya).
Air pendingin ini didinginkan dalam heat exchanger dengan air pendingin utama (biasanya air laut). Kebersihan heat exchanger sangat penting, karena akan mempengaruhi temperatur pendingin bantu yang siklusnya tertutup.
 
Peralatan yang didinginkan dengan sistem air pendingin bantu antara lain adalah :

·         Pendingin hidrogen (untuk generator berpendingin hidrogen)
·         Pendingin pelumas turbin
·         Instrument & Service Air Compressor
·         Pendingin Pompa air pengisi (BFP)
·         Pendingin pelumas Air Heater
·         Pendingin pelumas FDF & IDF
·         dan lain sebagainya

Air pendingin ini didinginkan dengan air pendingin utama didalam heat exchanger. Karena pendingin heat exchanger menggunakan air pendingin utama (biasanya air laut), maka masalah yang sering timbul adalah pengotoran dalam heat exchanger.  


   Komponen Sistem air pendingin bantu

Adapun komponen dalam sistem air pendingin bantu adalah :

·         Tangki air pendingin bantu (head tank).

Merupakan sarana penampang air pendingin bantu yang diisi air demin (make up water) dimana umumnya diletakkan pada elevasi yang cukup tinggi dari permukaan tanah dengan maksud untuk memberikan tekanan hisap positif (positive suction head) pada pompa air pendingin bantu.

Untuk mengantisipasi kebocoran-kebocoran dalam sistem, maka disediakan sistem kontrol otomatis untuk menjaga agar level tangki disediakan saluran untuk menambah air yang berasal dari percabangan sisi tekan pompa air condensate. Pada saluran ini dipasang katup pengatur (control valve) yang dikendalikan oleh level tangki (LT).  Bila level tangki turun dari semestinya, katup pengisian ini akan membuka sehingga air dari sisi tekan pompa condensate akan mengalir mengisi tangki.

·         Pompa air pendingin bantu (Auxiliary Cooling  Water Pump).

Pompa ini berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin bantu. Biasanya disediakan dua buah yang satunya untuk cadangan (stand by). Masing-masing pompa dilengkapi dengan saringan (strainer) pada sisi hisapnya. Operator harus memperhatikan kebersihan saringan ini. Kondisi saringan dapat diidentifikasikan dari perbedaan tekanan (DP) melintasi saringan. Bila perbedaan tekanan tinggi, berarti saringan dalam kondisi kotor dan perlu segera dibersihkan.

Sisi tekan masing-masing pompa dilengkapi katup satu arah (check valve) untuk mencegah aliran balik manakala pompa sedang dalam keadaan stop. Ketika pompa dimatikan, operator harus memastikan bahwa katup satu arah (check valve) ini menutup dengan baik. Kedua pompa juga dilengkapi dengan Pressure switch yang dipasang pada saluran tekan air pendingin bantu. Pressure switch ini berfungsi untuk memberikan sinyal start otomatis terhadap pompa. Bila tekanan saluran tekan air pendingin utama turun hingga batas tertentu, maka Pressure switch akan memerintahkan pompa yang stand by untuk start secara otomatis. 

·         Penukar panas air pendingin bantu (Auxiliary Cooling Water heat Exchanger).

Merupakan penukar panas tipe permukaan (surface type) yang berfungsi untuk mendinginkan air pendingin bantu dengan air pendingin utama sebagai media pendinginnya.

Pada penukar panas ini, air pendingin bantu mengalir diluar pipa - pipa pendingin sedangkan media pendingin mengalir didalam pipa-pipa pendingin.


Pada sisi masuk dan sisi keluar penukar panas baik untuk sisi air pendingin bantu maupun untuk sisi media pendingin dilengkapi dengan temperatur indikator. Operator harus memperhatikan temperatur-temperatur indikator ini. Bila temperatur air pendingin bantu keluar heat exchanger tinggi, berarti ada yang kurang beres. Bila ternyata hal ini disebabkan oleh tersumbatnya saluran-saluran media pendingin, lakukan back washing terhadap penukar panas atau bila perlu lakukan pembersihan.

Jumat, 22 September 2017

Apa itu BOTTOM ASH COOLER ?

Bagaimana Bottom Ash terbentuk ?


1. Adanya kandungan bebatuan, kerikil, pasir dan abu dalam batubara apabila dibakar akan meninggalkan sisa pembakaran yang disebut fly ash dan bottom ash.

2. Fly ash merupakan abu ringan dan halus yang kemudian di salurkan ke ESP dan dibuang ke Fly Ash Silo.

3. Sedangkan Bottom ash agak berat dan kasar dibuang ke Bottom Ash Silo melalui Bottom Ash Cooler dan Chain Bucket Conveyor.


Fungsi dari bottom ash cooler yaitu :


1. Bottom ash di dalam furnace bertemperatur sangat tinggi (>800 ’C) sehingga
tidak dapat langsung dibuang.

2. Bottom Ash Cooler berfungsi untuk mendinginkan bottom ash dari temperatur
> 800 ‘C menjadi < 100 ‘C sebelum dibuang ke bottom ash silo melalui chain
bucket conveyor.



Bagian - bagian dari bottom ash cooler antara lain sebagai berikut :

Inlet & Outlet Cooling Water

Berfungsi sebagai saluran masuk dan keluar air pendingin ke dalam bottom
ash cooler. Air pendingin yang dipakai berasal dari sistem pendingin bantu
(CCWP)

Input Ash Valve

Berfungsi sebagai saluran masuk bottom ash dari bottom furnace menuju
cooler. Bukaan valve tersebut harus diatur perlahan karena temperatur sangat
tinggi.

Chain Bucket Conveyor.

Berfungsi sebagai alat transportasi bottom ash menuju bottom ash silo.

Bottom Ash Silo.

Berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara bottom ash yang telah
didinginkan oleh cooler. Bottom ash selanjutnya akan diangkut menggunakan
dump truck dan dibuang di ash yard.

Rabu, 20 September 2017

Metode Mengendalikan Emisi SO2 Pada Gas Buang Boiler

Sulfur secara alami melakukan siklus yang melibatkan tumbuhan dan hewan. Sebagian besar sulfur tersebar di atmosfer dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S) yang dihasilkan dari proses pembusukan makhluk hidup. Gas tersebut perlahan teroksidasi membentuk SO2. Pada kondisi atmosfer, SO2 yang sangat reaktif akan secara alamiah berasimilasi kembali ke lingkungan. Hal tersebut sangat berbeda dengan gas SO2 hasil dari proses pembakaran bahan bakar fosil (batubara) yang jumlahnya terlalu banyak, sehingga kondisi alamiah lingkungan alam pun tidak dapat me-recycle-nya kembali ke alam sekitar.
20121227-091259 PM.jpg
Siklus Alamiah Sulfur
Bahan bakar fosil dengan kandungan alami sulfur paling banyak adalah batubara. Kandungannya dapat mencapai 10% maksimal tergantung dari kualitas batubara tersebut. Semakin tinggi kualitas batubara, maka kandungan sulfur di dalamnya semakin sedikit.
Penggunaan batubara sebagai bahan bakar utama pada boiler tidak akan pernah lepas dari permasalahan emisi SO2. Sekalipun yang digunakan adalah batubara dengan kualitas terbaik (kandungan sulfur rendah), emisi sulfur dioksida pasti akan terbentuk. Kita ambil contoh jika batubara yang digunakan pada sebuah boiler PLTU 640MW memiliki kandungan sulfur 5%, dan PLTU ini akan membutuhkan batubara sebanyak 260 ton per jamnya pada beban penuh. Maka dapat kita hitung dengan mudah, emisi sulfur dioksida yang terbuang tiap jam dapat mencapai 13 ton. Tentu jumlah ini sungguh luar biasa besarnya, dan akan sangat berbahaya jika SO2 dengan jumlah tersebut dibuang begitu saja ke udara tanpa ada sebuah perlakuan khusus agar lebih ramah lingkungan.
Untuk mengendalikan emisi gas buang SO2 yang dihasilkan oleh boiler ada tiga macam teknik, teknik pre-combustion, teknik modifikasi combustion, dan post-combustion. Untuk teknik yang pertama yakni modifikasi pre-combustion, adalah dengan jalan memodifikasi bahan bakar yang digunakan oleh boiler. Mengganti bahan bakar boiler dengan gas alam misalnya, akan mengurangi emisi SO2 sampai dengan 0%. Atau bisa juga diganti dengan solar (High Speed Diesel) sehingga dapat meminimalisir kandungan SO2 meskipun tidak sampai 0%. Kandungan sulfur yang rendah pada solar dan gas alam memang menjadi keuntungan di sini, namun karena sifat kedua bahan bakar tersebut yang volatil (mudah menguap) dan ketersediaannya yang terbatas membuat teknik ini menjadi tidak efisien. Mengganti bahan bakar boiler dari batubara menjadi solar atau gas alam, membutuhkan perhatian khusus dalam pengadaan sarana penyimpanan bahan bakar, saluran pendistribusiannya, peralatan proses pembakaran (burner), termasuk desain boiler dan keselamatannya. Sehingga teknik ini akan membutuhkan biaya yang cukup besar.
Teknik yang kedua adalah dengan memodifikasi proses pembakaran yang terjadi. Salah satunya adalah dengan menggunakan sistem Fluidized Bed Combustion, sistem ini mencampurkan udara dengan gas buang dan mengarahkan campuran tersebut ke material penyerap sulfur seperti limestone dan dolomite. Sistem ini dapat menyerap sulfur hingga 95% dari keseluruhan polutan sulfur yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara.
20130104-110738 AM.jpg
Fluidized Bed Combustion System
Teknik terakhir untuk mengendalikan emisi sulfur dioksida adalah dengan memodifikasi sistem setelah proses pembakaran. Setelah proses pembakaran, maka berbagai jenis emisi yang telah saya jelaskan pada artikel sebelumnya telah terbentuk. Sehingga sistem kontrol emisi yang digunakan pada jenis ini berfungsi untuk menyerap polutan-polutan berbahaya yang dihasilkan oleh proses pembakaran batubara. Berikut adalah sistem-sistem tersebut:
Flue Gas Desulphurization
Ada dua tipe Flue Gas Desulphurization yang umum digunakan pada berbagai jenis boiler, yaitu tipe basah (Wet Flue Gas Desulphurization) dan tipe kering (Dry Flue Gas Desulphurization). Untuk yang tipe basah, FGD menggunakan bahan baku air laut sebagai media penyerap emisi sulfur. Flue gas yang keluar dari boiler, dialirkan ke sistem Flue Gas Desulphurisation (FGD) dan disemprot dengan menggunakan air laut sehingga terjadi reaksi kimia berikut:
SO2 + H2O → H+ + HSO3-
Proses selanjutnya adalah proses oksidasi. Dengan menggunakan oksidation air blower, udara dari atmosfer dimasukkan ke dalam tangki larutan campuran antara air laut dengan hasil dari reaksi kimia sebelumnya. Pada fase ini terjadi reaksi kimia berikut:
HSO3- + ½O2 → HSO4-
Dan pada akhir proses, terjadi reaksi kimia secara alami di naturalisation basin, yaitu:
HSO4- + HCO3- → SO42+ + H2O + CO2
Dan seperti yang Anda lihat hasil reaksi kimia di atas merupakan zat-zat yang menjadi penyusun alami air laut. Dan menurut hasil penelitian, penambahan zat-zat tersebut ke dalam air laut masih tidak berpengaruh terhadap keseimbangan air laut.
20130106-100550 AM.jpg
Flue Gas Desulphurization Tipe Basah
Pada Flue Gas Desulphurization tipe kering, udara flue gas dimasukkan ke dalam sistem dan disemprot dengan zat kimia absorber sulfur. Zat kimia absorber yang digunakan bukan air laut, melainkan bahan-bahan kimia seperti CaCO3 (limestone) dengan reaksi kimia absorbsi berikut:
CaCO3 (solid) + SO2 (gas) → CaSO3 (solid) + CO2 (gas)
Selain menggunakan CaCO3 juga dapat digunakan Ca(OH)2 dan Mg(OH)2 (magnesium hidroksida). Materi absorbsi tersebut dikabutkan oleh sebuah bagian bernama ratary atomizer sehingga didapatkan ukuran partikel yang cukup kecil untuk mengoptimalkan proses penyerapan SO2.
20130106-101640 PM.jpg
Flue Gas Desulphurization Tipe Kering
Sistem CSNOx
Sistem CSNOx merupakan sebuah sistem terbaru yang telah dikembangkan dan dipatenkan oleh Ecospec Global Technology, sebuah perusahaan riset dan teknologi yang berkantor pusat di Singapura. Sistem ini diklaim sebagai sebuah sistem pengendali emisi pertama di dunia yang mampu menyerap tiga sekaligus emisi gas buang yakni karbon dioksida (CO2), Sulfur dioksida (SO2, dan sekaligus NOx. Bukan hanya itu kelebihan CSNOX, sistem ini mampu menyerap polutan-polutan tersebut dengan jumlah yang melebihi FGD. Dalam uji cobanya yang dipasangkan ke dalam sebuah kapal tanker Alframax pada bulan Februari 2010, CSNOx mampu menyerap 99% SO2, 77% CO2, dan 66% untuk NOx.
20130106-112053 PM.jpg
Sistem Kerja CSNOx
Prinsip kerja utama dari CSNOx adalah penggunaan gelombang frekuensi ultra rendah / Ultra Low Frequency (ULF) yang dipancarkan ke air sebagai media kerjanya. Air tersebut selanjutnya direaksikan dengan gas buang boiler untuk menyerap SO2, CO2, dan NOx. CSNOx memiliki komponen-komponen utama sebagai berikut:
  1. Bio Fouling Control, berfungsi untuk mengendalikan organisme-organisme air (laut) pada air sehingga tidak mengganggu proses selanjutnya.
  2. SOx Absorption Enhancer, komponen untuk mengoptimalkan proses penyerapan polutan sulfur oleh air.
  3. pH Exciter, berfungsi untuk mengontrol pH air sebelum proses penyerapan polutan.
  4. Ultra Low Frequency Electrode, berfungsi memancarkan gelombang ultra rendah pada air.
  5. Mineral Scale Control, berfungsi untuk mencegah pembentukan kerak pada pipa-pipa.
  6. CO2 dan NOx Reducer, berfungsi untuk mengoptimalkan proses penyerapan CO2 dan NOx.
  7. Discharge Mixing Tank, berfungsi untuk penampung air hasil proses penyerapan sebelum dikembalikan ke laut.
Free eBook Pengendalian Emisi SO2:
  1. Wet Flue Gas Desulphurization System
  2. Spray Dry Flue Gas Desulphurization System
  3. CSNOx

Sabtu, 16 September 2017

Sistem Vaccum Kondensor



Prinsip kerja kondensor

  • Kondensor adalah peralatan yang berfungsi untuk mengubah uap air menjadi air
  • Prinsip kerja kondensor proses perubahannya dilakukan dengan cara mengalirkan uap ke dalam suatu ruangan yang berisi pipa-pipa (tubes) yang berisi air pendingin
  • akibat dari proses tersebut maka kondensor dalam kondisi vaccum

Prinsip kerja pompa vaccum

1. Pompa vaccum pada kondensor berfungsi untuk menghisap gas-gas yang tidak dapat terkondensasi (Non condensable gas / NCG) yang terdapat di air pada dalam kondensor

2. Gas-gas tersebut bercampur dengan uap air dan karena sifatnya uncondensable atau tidak dapat terkondensasi dan dapat mengurangi kinerja kondensor maka dikeluarkan dari kondensor

3. Yang tidak diinginkan dari gas-gas tersebut adalah mengurangi bidang kontak perpindahan panas pada kondensor


Penyebab turunnya Vaccum kondensor
  • Tube kondensor kotor
  • Saringan debris (secondary filter) kotor
  • Tekanan gland seal terlalu rendah
  • Vaccum break valve tidak menutup rapat
  • Membran turbin (rupture disc) mengalami keretakan
  • Kinerja vaccum pump turun
  • Water separator level vaccum pump terlalu rendah
  • Leakage disisi inlet vaccum pump
  • Leakage disisi suction CEP
  • Kebocoraan pada ruang kondensor sehingga udara luar ada yang masuk

Senin, 11 September 2017

Jenis - Jenis Relay

DUNIA PEMBANGKIT ISTRIK - Relay merupakan komponen elektronika yang dapat mengimplementasikan logika switching. Relay yang digunakan sebelum tahun 70an, merupakan “otak” dari rangkaian pengendali. Setelah tahun 70-an digantikan posisi posisinya oleh PLC
Relay yang paling sederhana ialah relay elektromekanis yang memberikan pergerakan mekanis saat mendapatkan energi listrik. Secara sederhana relay elektromekanis ini didefinisikan sebagai berikut :

  • Alat yang menggunakan gaya elektromagnetik untuk menutup (atau membuka) kontak saklar.
  • Saklar yang digerakkan (secara mekanis) oleh daya/energi listrik.
Jadi secara sederhana dapat disimpulkan bahwa Relay adalah komponen elektronika berupa saklar elektronik yang digerakkan oleh arus listrik.

Secara umum, relay digunakan untuk memenuhi fungsi – fungsi berikut :

  • Remote control : dapat menyalakan atau mematikan alat dari jarak jauh
  • Penguatan daya : menguatkan arus atau tegangan
  • Contoh : starting relay pada mesin mobil
  • Pengatur logika kontrol suatu sistem
Fungsi dan Jenis-jenis Relay

Gambar Relay yang banyak di pasaran

Prinsip Kerja Relay

Fungsi dan Jenis-jenis Relay
Skema relay elektromekanik

Relay terdiri dari coil dan contact. Perhatikan gambar diatas, coil adalah gulungan kawat yang mendapat arus listrik, sedang contact adalah sejenis saklar yang pergerakannya tergantung dari ada tidaknya arus listrik di coil.
Contact ada 2 jenis :

  • Normally Open (kondisi awal sebelum diaktifkan open)
  • Normally Closed (kondisi awal sebelum diaktifkan close)
Secara prinsip kerja dari relay : ketika Coil mendapat energi listrik (energized), akan timbul gaya elektromagnet yang akan menarik armature yang berpegas, dan contact akan menutup.

Jenis – jenis Relay
Seperti saklar, relay juga dibedakan berdasar pole dan throw yang dimilikinya.

  • Pole : banyaknya contact yang dimiliki oleh relay 
  • Throw : banyaknya kondisi (state) yang mungkin dimiliki contact 
Berikut ini penggolongan relay berdasar jumlah pole dan throw :
  • DPST (Double Pole Single Throw)
  • SPST (Single Pole Single Throw)
  • SPDT (Single Pole Double Throw)
  • DPDT (Double Pole Double Throw)
  • 3PDT (Three Pole Double Throw)
  • 4PDT (Four Pole Double Throw)
Jenis Relay : 
  • Timing relay adalah jenis relay yang khusus. Cara kerjanya ialah sebagai berikut : jka coil dari timing relay ON, maka beberapa detik kemudian, baru contact relay akan ON atau OFF (sesuai jenis NO/NC  contact). 
  • Latching relay ialah jenis relay digunakan untuk latching atau mempertahankan kondisi aktif input   sekalipun input sebenarnya sudah mati. Cara kerjanya ialah sebagai berikut : jika latch coil diaktifkan, ia tidak akan bisa dimatikan kecuali unlatch coil diaktifkan. Simbol dari latching relay 
Rangkaian dan Simbol Relay 
Fungsi dan Jenis-jenis Relay
Relay jenis Single Pole Double Throw (SPDT)
Fungsi dan Jenis-jenis Relay
Relay dengan contact lebih dari satu

Minggu, 10 September 2017

Sistem Hidrolik pada Dump Truck

DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Sistem hidrolik merupakan suatu bentuk perubahan atau pemindahan daya dengan menggunakan media penghantar berupa oli untuk memperoleh daya yang lebih besar dibandingkan daya awal yang dikeluarkan.
Oli penghantar ini dinaikkan tekanannya oleh pompa pembangkit tekanan yang kemudian diteruskan ke silinder kerja melalui pipa-pipa saluran dan katup-katup. Gerakan translasi batang piston dari silinder yang diakibatkan oleh tekanan oli pada ruang silinder untuk gerak maju dan mundur.
Sistem yang dikembangkan dari hukum Pascal ini menjadi salah satu ilmu yang vital penggunaannya di dunia industri, termasuk otomotif dan kontruksi. Dalam dunia konstruksi, hidrolik juga dipakai pada traktor, trailer, crane, dan alat-alat lain. Dunia trucking sangat dibantu dengan hadirnya sistem ini.
Salah satunya adalah dump truck. Dump truck adalah sebuah truk yang mempunyai bak material yang dapat dimiringkan sehingga untuk menurunkan material hanya dengan hanya memiringkan bak sehingga muatannya dapat meluncur ke bawah. Berdasar informasi owner Alindo Hidroutech, Kristina Ayuk, pompa hidrolik terdiri dari beberapa komponen dasar.

Komponen Dasar Sistem Hidrolik 
1. Pompa Hidrolik
Pompa umumnya digunakan untuk memindahkan sejumlah volume cairan yang digunakan agar suatu cairan tersebut memiliki bentuk energi. Pompa hidrolik berfungsi untuk mengisap oli hidrolik yang akan disirkulasikan dalam sistem hidrolik. Sistem hidrolik merupakan siklus yang tertutup karena oli disirkulasikan ke rangkaian hidrolik selanjutnya dikembalikan ke tangki penyimpan oli. Ada beberapa jenis pompa hidrolik, sebagai berikut.
a. Pompa Roda Gigi
Pompa ini terdiri dari dua buah roda gigi yang dipasang saling merapat. Perputaran roda gigi yang saling berlawanan arah akan mengakibatkan vakum pada sisi isap, akibatnya oli akan terisap masuk ke dalam ruang pompa, selanjutnya dikompresikan ke luar pompa hingga tekanan tertentu. Tekanan pompa hidrolik dapat mencapai 100 bar.
b. Pompa Sirip Burung
Pompa ini terdiri dari banyak sirip yang bergerak fleksibel di dalam rumah pompanya. Bila volume di ruang pompa membesar, terjadi penurunan tekanan, oli hidrolik akan terisap masuk, kemudian diteruskan ke ruang kompresi. Oli yang bertekanan akan dialirkan ke sistem hidrolik.
c. Pompa Torak Aksial
Pompa hidrolik ini akan mengisap oli melalui pengisapan yang dilakukan oleh piston yang digerakkan oleh poros rotasi. Gerak putar dari poros pompa diubah menjadi gerakan torak translasi, kemudian terjadi langkah isap dan kompresi secara bergantian.
d. Pompa Torak Radial
Pompa ini berupa piston-piston yang dipasang secara radial, bila rotor berputar secara eksentrik, piston pada stator akan mengisap dan mengompresi secara bergantian. Gerakan torak ini akan berlangsung terus-menerus sehingga menghasilkan aliran oli berkelanjutan.
e. Pompa Sekrup
Pompa ini memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan; yang satu mempunyai bentuk cekung, sedangkan lainnya berbentuk cembung sehingga dapat memindahkan oli secara aksial ke sisi lainnya. Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi helix yang saling bertautan.
2. Aktuator Hidrolik
Seperti halnya pada sistem pneumatik, aktuator hidrolik dapat berupa silinder hidrolik, maupun motor hidrolik. Silinder hidrolik bergerak secara translasi sedangkan motor hidrolik bergerak secara rotasi. Dilihat dari daya yang dihasilkan aktuator hidrolik memiliki tenaga yang lebih besar (dapat mencapai 400 bar atau 4×107 Pa), dibanding pneumatik.
3. Silinder Hidrolik Penggerak Ganda
Silinder hidrolik penggerak ganda akan melakukan gerakan maju dan mundur akibat adanya aliran hidrolik yang dimasukkan pada sisi kiri (maju) dan sisi kanan (mundur). Tekanan oli akan diteruskan melalui torak selanjutnya menjadi gerakan mekanik melalui stang torak. Gerakan maju dan mundur dari gerakan stang torak ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan dalam proses produksi, seperti mengangkat, menggeser, menekan, dll. Karena daya yang dihasilkan besar, silinder ini banyak digunakan pada peralatan berat, seperti, dump truck, buldoser, dan bego.
Instalasi pompa hidrolik, yaitu kopling, tangki hidrolik, baffle plate, dan filter.

Prinsip Kerja Dump Truck
1. Gerakan Travelling (Gerakan Jalan)
Gerakan yang dimaksud adalah gerakan berjalan dump truck untuk mengangkut muatan dari satu tempat menuju tempat lain untuk memindahkan dan menumpahkan muatan tersebut. Gerakan tersebut dimulai dari sumber tenaga yang dinamakan dengan mesin penggerak. Mesin ini akan memutar poros penggerak, kemudian melalui kopling akan menggerakkan transmisi roda gigi yang diatur oleh handle gigi. Transmisi ini memutar roda-roda dump truck untuk berjalan dan memindahkan muatan, melalui poros propeller dan gigi diferensial.
2. Gerakan Dumping atau Menumpahkan Muatan
Pada saat menumpahkan muatan dengan pengangkatan bak, dump truck menggunakan sistem hidrolis. Sistem ini merupakan pemindah daya dengan menggunakan zat cair atau oli sebagai perantaranya. Sistem hidrolis merupakan pengubahan tenaga dari tenaga hidrolis menjadi mekanis.
Dengan gerakan dumping yang berprinsip kerja sistem hidrolis tersebut, muatan akan dengan mudah meluncur ke bawah. Saat memiringkan muatan tersebut sistem hidrolis didapatkan dari mesin penggerak kemudian diteruskan pada mekanisme roda gila untuk menggerakkan pompa hidrolik. Pompa tersebut akan mendorong atau mengalirkan oli menuju katup pengontrol. Dari katup inilah aliran oli akan diatur oleh tekanan minyak oli yang masuk ke dalam silinder hidrolik. Tekanan minyak yang telah diatur tersebut akan mendorong silinder hidrolik untuk menumpahkan muatan material yang ada dalam bak truk.

Sistem Hidrolik, Baguskah?
Sistem hidrolik memiliki banyak kelebihan. “Sistem ini merupakan salah sistem yang paling banyak digunakan dalam industri mana pun. Hidrolik sangat membantu mekanisme kerja perangkat,” ungkap Bambang Prasetya, kepala mekanik salah satu karoseri di Surabaya. Sistem ini sebagai sumber kekuatan untuk banyak variasi pengoperasian. Kelebihan sistem hidrolik sebagai berikut.
1) Bila dibandingkan dengan metode tenaga mekanik, tenaga mekanik mempunyai kelemahan pada penempatan posisi tenaga transmisinya. Lain halnya dengan tenaga hidrolik, saluran-saluran tenaga hidrolik dapat ditempatkan di tiap tempat, tanpa menghiraukan posisi poros terhadap transmisi tenaganya seperti pada sistem tenaga mekanik. Tenaga hidrolik lebih fleksibel dalam segi penempatan transmisi tenaganya.
2) Dalam sistem hidrolik, gaya yang sangat kecil dapat digunakan untuk menggerakkan atau mengangkat beban yang sangat berat dengan cara mengubah sistem perbandingan luas penampang silinder. Hal ini tidak lain adalah karena kemampuan komponen-komponen hidrolik pada kecepatan dan tekanan yang sangat tinggi.
3) Sistem hidrolik menggunakan minyak mineral sebagai media pemindah gayanya. Pada sistem ini bagian-bagian yang bergesekan terselimuti oleh lapisan minyak (oli) sehingga pada bagian-bagian tersebut dengan sendirinya akan terlumasi. Sistem inilah yang akan mengurangi angka gesekan.
4) Beban dengan mudah dikontrol memakai katup pengatur tekanan. Karena apabila beban lebih tidak segera diatasi akan merusak komponen-komponen itu sendiri. Sewaktu beban melebihi kemampuan penyetelan katupnya, pemompaan langsung dihantarkan ke tangki dengan batas-batas tertentu terhadap gayanya.
5) Dengan sistem hidrolik, begitu pompa tidak mampu mengangkat, beban berhenti dan dapat dikunci di posisi mana saja. Lain halnya dengan motor listrik, dalam keadaan jalan tiba-tiba dipaksa untuk berhenti.
6) Mudah dalam pemasangan.
7) Ringan.
8) Sedikit perawatan.
9) Tidak berisik.
Sedangkan kekurangan sistem hidrolik adalah sebagai berikut.
1) Harga mahal karena menggunakan oli.
2) Apabila terjadi kebocoran, akan mengotori sistem sehingga sistem hidrolik jarang digunakan pada industri makanan maupun obat-obatan.
Berikut beberapa tips dari Bambang agar perangkat hidrolik pada dump truk berumur panjang.
1. Cek secara berkala oli pelumas
Pemeriksaan oli secara berkala menjadi yang utama dalam sistem hidrolik karena oli adalah bagian penting untuk mekanime pemindah gaya.
2. Cek secara berkala grace (stempet) pada bagian mekanisme.
Grace untuk melumasi dan melapisi bagian logam yang bergesekan pada sistem hidrolik.
3. Usahakan pada saat bongkar muat memilih tempat yang datar.
Pemilihan tempat yang tidak rata akan memengaruhi daya dorong pompa hidrolik yang tidak seimbang, ini jelas akan memperpendek umur hidrolik.
4. Beban muatan tidak melebihi tonase.
Tonase beban dump truk sudah disesuaikan dengan kemampuan pompa hidrolik. Pemuatan beban melebihi tonase akan mengganggu komponen hidrolik secara keseluruhan. Makin sering, hidrolik cepat rusak.

Kondensor dan prinsip kerjanya pada PLTU

Kondensor adalah suatu alat yang terdiri dari jaringan pipa dan digunakan untuk mengubah uap menjadi zat cair (air). dapat juga diartikan sebagai alat penukar kalor (panas) yang berfungsi untuk mengkondensasikan fluida.  Dalam penggunaanya kondensor diletakkan diluar ruangan yang sedang didinginkan supaya panas yang keluar saat pengoprasiannya dapat dibuang keluar sehingga tidak mengganggu proses pendinginan.


Kondensor dan Prinsip Kerjanya- image
Cara kerja kondensor- revsangmane.blogspot.com

Prinsip Kerja Kondensor

Prinsip kerja kondensor tergantung dari jenis kondensor tersebut, secara umum terdapat dua jenis kondensor yaitu surface condenser dan direct contact condenser. Berikut klasifiksi kedua jenis kondesor tersebut:

1. Surface Condenser

Cara kerja dari jenis alat ini ialah proses pengubahan dilakukan dengan cara mengalirkan uap kedalam ruangan yang berisi susunan pipa dan uap tersebut akan memenuhi permukaan luar pipa sedangkan air yang berfungsi sebagai pendingin akan mengalir di dalam pipa (tube side), maka akan terjadi kontak antara keduanya dimana uap yang memiliki temperatur panas akan bersinggungan dengan air pendingin yang berfungsi untuk menyerap kalor dari uap tersebut, sehingga temperatur steam (uap) akan turun dan terkondensasi. Surface condenser terdiri dari dua jenis yang dibedakan oleh cara masuknya uap dan air pendingin, berikut jenis-jenisnya:

  1. Type Horizontal Condenser
    Pada type kondesor ini, air pendingin masuk melalui bagian bawah, kemudian masuk kedalam pipa (tube) dan akan keluar pada bagian atas, sedangkap uap akan masuk pada bagian tengah kondensor dan akan keluar sebgai kondensat pada bagian bawah.
  2. Type Vertical condenser
    Pada jenis kondensor ini, tempat masuknya air pendingin melalui bagian bawah dan akan mengalir di dalam pipa selanjutnya akan keluar pada bagian atas kondensor, sedangkan steam akan masuk pada bagian atas dan air kondesat akan keluar pada bagian bawah.




2. Direct Contact Condenser

Cara kerja dari kondensor jenis ini yaitu proses kondensasi dilakukan dengan cara mencampurkan air pendingin dan uap secara langsung. Jenis dari kondensor ini disebut spray condenserpada alat ini proses pencampuran dilakukan dengan menyemprotkan air pendingin ke arah uap. Sehingga steam akan menempel pada butiran-butiran air pendingin tersebut dan akan mengalami kontak temperatur, selanjutnya uap akan terkondensasi dan tercampur dengan air pendingin yang mendekati fase saturated (basah).

Perlu kita ketahui, bahwa setiap industri terkadang memiliki cara kerja pertukaran panas yang berbeda-beda, misalnya saja pada industri migas, fraksi yang panas akan mengalir melalui pipa sedangkan minyak mentah (dingin) akan mengalir diluar pipa. Hal ini dikarenakan fraksi yang mengalir di dalam pipa merupakan hasil yang telah diolah pada menara destilasi sehingga memiliki temperatur yang panas, panas dari fraksi inilah yang dimanfaatkan untuk memanaskan miyak mentah yang akan dimasukkan kedalam kolom destilasi.



Air Pendingin Kondensor

Air pendingin dalam kondensor sangat memiliki peranan penting dalam proses kondensasi uap menjadi condensat water. Bahan baku air pendingin biasanya didapatkan dari danau dan air laut (sea water, dalam proses pengambilannya biasanya digunakan alat sejenis jaring yang berfungsi untuk menjaring kotoran serta benda-benda padat lainnya agar tidak terikut kedalam hisapan pompa yang tentunya dapat mengganggu kinerja kondensor bahkan kerusakan pada peralatan.



Penyebab Penurunan Kinerja Kondensor

Kondensor sangat rentan terhadap gangguan-gangguan yang dapat menghambat kinerjanya, berikut masalah-masalah yang sering terjadi pada kondensor:

1. Non Condesable Gases (gas yang tidak dapat terkondensasi).
Gas ini dapat meneyebabkan kenaikan pressure terhadap kondensor dan menyelimuti permukaan tube-tube yang dapat menghambat transfer panas antara uap dengan cooling water, sehingga gas-gas ini harus dikeluarkan atau dibuang dari dalam kondensor. Cara untuk mengeluarkan udara tersebut biasanya dilakukan dengan bantuan venting pump dan primming pump yang merupakan pompa vakum.

2. Terjadi Fouling Terhadap Kondensor.
Fouling atau endapan sangat mungkin terjadi pada kondensor, endapan yang mengotori tube-tube kondensor ini berasal dari sumber pengambilan bahan baku air pendingin. Seperti yang kita ketahui tempat pengambilan air pendingin berasal dari laut dan kemungkinan besar air tersebut mengandung endapan-endapam kotoran yang ikut masuk dan mengendap pada tube-tube kondensor, hal ini dapat menyebebakan menurunnya laju perpindahan panas pada kondensor, sehingga kualitas air pendingin sangat diperlukan agar mengurangi penyebab fouling pada kondensor. Cara untuk mengeluarkan kotoran tersebut biasanya dilakukan dengan cara:
  • backwash kondensor, yaitu dengan membalikkan arah aliran air pendingin dengan tujuan membuang kotoran yang masuk ke dalam waterbox inlet yang menghalangi proses perpindahan panas pada kondensor, proses ini dilakukan dengan cara membalikkan arah aliran inlet dan outlet.
  • Ball Cleaningproses pembersihan dengan cara ini dapat dilakukan dengan  bola sebgai alat untuk membersihkan tube kondensor. Cara kerjanya yaitu bola akan dimasukkan pada inlet mengikuti aliran  kondensor dan keluar pada waterbox outlet.

Demikianlah sedikit pembahasan tentang kondensor dan prinsip kerjanya, dimana alat merupakan salah satu peralatan industri di berbagai sektor, semoga bermanfaat bagi pembaca. Tentunya artikel ini masih memiliki banyak kekurangan sehingga kritik dan saran yang mendukung sangat saya harapkan, Terimakasih.