Jumat, 30 September 2016

Air Dryer Pada Sistem Kompresor




BLOG'S DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Sebelum udara dimanfaatkan ke pemakaian (sebagai udara kontrol) udara harus dikeringkan dahulu sesuai dengan kebutuhan, maksudnya :

  1. Mencegah korosi alat – alat instrumen
  2. Mencegah penyumbatan dari orifice, nosel, jarum dan alat – alat lainya yang berhubungan dengan instrumen.

Sebagai indikator dari kekeringan udara tersebut digunakan kertas lakmus. Bila udara tersebut masih basah (masih mengandung minyak atau air) maka kertas tersebut akan berubah warnanya sesuai kadar kelembaban udara tersebut. Air dryer yang digunakan adalah type : kompresor pada air dryer ini digerakan oleh motor 3 phasa, 0.75 KW dengan 3
putaran 3000 rpm, 380 volt dan 50 Hz. Kapaitas air dryer ini 280 Nm / jam, titik embunnya 7 OC pada tekanan outlet 9 kg/cm g sedangkan tekanan drop udara 0,2 kg/cm




1.    Udara ke penukar kalor.
Udara yang meninggalkan dryer akan mengalami pemanasan oleh Udara yang keluar dari inlet (udara dari kompresor), masuk melalui sebuah penukar kalor udara untuk mencegah terjadinya kondensasi pada saluran.

2.    Refrigent / penukar kalor udara.
Refrigerant dingin akan menjadi panas , karena kenaikan tekanan (dikompresi). Menjerat kondensasi dariuap air ke penampung air. Lebih efektif terjadi perpindahan panas pada cooler udara, maka lebih banyak pula terjadi kondensasi uap air.

3.    Water separator (separator air)
Air kondensasi kondensasi yang keluar dari aliran udara kompresi didinginkan akan mengumpul pada separator, kemudian terbuang ke pembuangan (drainase). Sedangkan titik embun yang tidak terjerat akan terus lewat ke sistem.

4.    Kompresor refrigerant.
Gas refrigerant meninggalkan unit sparator dengan tekanan dan temperatur tinggi.

5.    Hot gas by pass valve
Penggunaan by pass, gas panas secara mekanis untuk mengatur keadaan dryer dengan maksud supaya tekanan konstan.

6.    Kondensor refrigerant
Kondensasi pendingin refrigerant, secara perlahan refrigerant  akan berubah dari gas  ke bentuk cairan refrigerant ini. Sangat efectif bila tetap dalam kondisi cair.

7.    Refrigenrant Filter
Filter refrigarent sebagai penyaring dari kotoran-kotoran.

8.    Exspantion device
Proses exspansi tidak hanya mereduksi tekanan,tetapi juga menurunkan temperatur air reprigerant sejauh kenaikan sedang didinginkan sejauh kemampuan refregerantnya.

9.    Refrigerant Separator
Separator refrigerant sebagai penyaring refrigerant.

Kamis, 29 September 2016

Apa Itu K2 Dalam Sistem Pembangkit Listrik ?

BLOG'S DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Dalam dunia pembangkit listrik atau usaha pembangkit perlu adanya undang - undang yang mengatur tentang pembangkit, lingkungan serta SDM yang bekerja dalam suatu pembangkit.

Maka dari itu saya akan memberikan sedikit artikel mengenai apa itu K2 dalam usaha pembangkit. Dan seberapa pentingkah K2 tersebut baik bagi manusia, pembangkit dan lingkungan sekitar pembangkit serta bagaimana hukum pidana jika melangar undang - undang tersebut. Mari kita bedah satu persatu dibawah ini.

Pengertian K2


DEFINISI ATAU PENGERTIAN K2 :

KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN ADALAH SEGALA UPAYA ATAU LANGKAH-LANGKAH PENGAMANAN INSTALASI TENAGA LISTRIK DAN PENGAMANAN PEMANFAAT TENAGA LISTRIK UNTUK MEWUJUDKAN KONDISI ANDAL BAGI INSTALASI DAN KONDISI AMAN DARI BAHAYA BAGI MANUSIA, SERTA KONDISI AKRAB LINGKUNGAN, DALAM ARTI TIDAK MERUSAK LINGKUNGAN HIDUP DI SEKITAR INSTALASI TENAGA LISTRIK.

K2 meliputi antara lain sebagai berikut :
1.KESELAMATAN KERJA
2.KESELAMATAN UMUM
3.KESELAMATAN LINGKUNGAN
4.KESELAMATAN INSTALASI
 
 Keselamatan kerja,
       upaya mewujudkan kondisi aman bagi pekerja dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan Instalasi dan kegiatan ketenagalistrikan lainnya dari Perusahaan, dengan memberikan perlindungan, pencegahan dan penyelesaian terhadap terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit yang timbul karena hubungan kerja yang menimpa pekerja.
 
  Keselamatan umum, 
       upaya mewujudkan kondisi aman bagi masyarakat umum dari bahaya yang diakibatkan oleh kegiatan Instalasi dan kegiatan ketenagalistrikan lainnya dari Perusahaan, dengan memberikan perlindungan, pencegahan dan penyelesaian terhadap terjadinya kecelakaan masyarakat umum yang berhubungan dengan kegiatan Perusahaan.
 
 Keselamatan lingkungan,
       upaya mewujudkan kondisi akrab lingkungan dari Instalasi, dengan memberikan perlindungan terhadap terjadinya pencemaran dan / atau pencegahan terhadap terjadinya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan Instalasi.
 
Keselamatan instalasi,
      upaya mewujudkan kondisi andal dan aman bagi Instalasi, dengan memberikan perlindungan, pencegahan dan pengamanan terhadap terjadinya gangguan dan kerusakan yang mengakibatkan Instalasi tidak dapat berfungsi secara normal dan atau tidak dapat beroperasi.
 
EMPAT PILAR
KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN
KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN
Gb. bagan 4 pilar keselamatan ketenagalistrikan     

KETEKNIKAN DAN KETENTUAN PIDANA



KETEKNIKAN DAN KETENTUAN PIDANA INI ADALAH BAGIAN DARI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO 30 TAHUN 2009
TENTANG KETENAGALISTRIKAN.


DASAR HUKUM
 


KETEKNIKAN
PASAL 43

Keteknikan ketenagalistrikan terdiri atas:
    a. keselamatan ketenagalistrikan
    b. pemanfaatan jaringan tenaga listrik untuk kepentingan telekomunikasi,
        multimedia, dan infomatika.

 UU No. 30 TAHUN 2009

 Pasal 44

(1) Setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan wajib memenuhi ketentuan
     keselamatan ketenagalistrikan;
(2) ketentuan keselamatan ketenagalistrikan bertujuan untuk menciptakan kondisi :
a.andal dan aman bagi instalasi;
b.aman dari bahaya bagi manusia dan makhluk hidup lainnya; dan
c.ramah lingkungan.
(3)  Ketentuan keselamatan ketenagalistrikan meliputi:
a.pemenuhan standardisasi peralatan dan pemanfaat tenaga listrik;
b.pengamanan instalasi tenaga listrik; dan
c.pengamanan pemanfaat tenaga listrik.

(4) Setiap instalasi tenaga listrik yang beroperasi wajib memiliki sertifikat laik 
     operasi.
(5) Setiap peralatan dan pemanfaat tenaga listrik wajib memenuhi ketentuan
     standar nasional Indonesia. 
(6) Setiap tenaga teknik dalam usaha ketenagalistrikan wajib memiliki
      sertifikat kompetensi.
(7) Ketentuan mengenai keselamatan ketenagalistrikan, sertifikat laik operasi,
     standar nasional Indonesia, dan sertifikat kompetensi diatur dengan
     Peraturan Pemerintah.

 
BAB XV. KETENTUAN PIDANA

Pasal 50

(1)  Setiap orang yang tidak memenuhi keselamatan 
      ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam
      Pasal 44 ayat (1) yang mengakibatkan matinya
      seseorang karena tenaga listrik dipidana dengan
      pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun 
      dan denda paling banyak Rp500.000.000,00
      (lima ratus juta rupiah)
 
(2)  Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada
      ayat (1) dilakukan oleh pemegang izin usaha
      penyediaan tenaga listrik atau pemegang izin
      operasi dipidana dengan pidana penjara paling
      lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
      banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah

(3)  Selain pidana sebagaimana dimaksud pada
       ayat (2), pemegang izin usaha penyediaan
       tenaga listrik atau pemegang izin operasij
       juga diwajibkan untukmemberi ganti rugi
       kepada korban.
(4)   Penetapan dan tata cara pembayaran ganti
       rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
       dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
       peraturan perundang-undangan.

PASAL  51

(1). Setiap orang yang tidak memenuhi keselamatan   
      ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam 
      Pasal 44 ayat (1) sehingga mempengaruhi 
      kelangsungan penyediaan tenaga listrik dipidana
      dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
      dan denda palingbanyak Rp500.000.000,00 (lima
      ratus juta rupiah).  
 
(2). Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada 
    ayat (1)mengakibatkan terputusnya aliran listrik 
    sehingga merugikan masyarakat, dipidana dengan 
    pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan
    dendap paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua
    miliar lima ratus juta rupiah).


Semoga bermanfaat.



 
biz.