Kamis, 23 Februari 2017

Potensi Bahaya Pada Boiler

Potensi Bahaya Pada Boiler

Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Pesawat Uap atau juga disebut Ketel Uap adalah suatu pesawat yang dibuat untuk mengubah air didalamnya, sebagian menjadi uap dengan jalan pemanasan menggunakan pembakaran dari bahan bakar. Ketel uap dalam keadaan bekerja, adalah sebagai bejana yang tertutup dan tidak berhubungan dengan udara luar karena selama pemanasan, maka air akan mendidih selanjutnya berubah menjadi uap panas dan bertekanan, sehingga berpotensi terjadinya ledakan jika terjadi kelebihan tekanan (over pressure). Prinsip kerjanya yaitu dengan semakin tingginya tekanan uap maka setiap ketel harus mampu menahan tekanan uap ini. Dengan memanfaatkan tekanan uap ini maka dapat digunakan untuk menggerakan mesin atau generator untuk menghasilkan energi listrik.

Bejana tekan adalah suatu wadah untuk menampung energi baik berupa cair atau gas yang bertekanan atau bejana tekan adalah selain pesawat uap yang mempunyai tekanan melebihi tekanan udara luar (atmosfer) dan mempunyai sumber bahaya antara lain; kebakaran, keracunan, gangguan pernafasan, peledakan, suhu ekstrem.

Pemanfaatan bejana tekan akhir-akhir ini telah berkembang pesat di berbagai proses industri barang dan jasa maupun untuk fasilitas umum dan bahkan di rumah-rumah tangga. Bejana tekanan merupakan peralatan teknik yang mengandung resiko bahaya tinggi yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan atau peledakan. Tingginya resiko kecelakaan kerja dibidang Pesawat Uap dan Bejana Tekan (PUBT) membuat perusahaan semakin waspada akan bahaya yang mungkin ditimbulkan dari kecelakaan kerja PUBT.

Pesawat uap dan bejana tekan merupakan sumber bahaya termasuk operator pesawat uap yang mana potensi bahaya ditimbulkan akibat penggunaan atau pengoperasian pesawat uap dan bejana tekan meliputi semburan api, air panas, gas, fluida, uap panas, debu, panas/suhu tinggi, bahaya kejut listrik, dan peningkatan tekanan atau peledakan. Agar kecelakaan tidak timbul dalam kerja yang menggunakan pesawat uap maupun bejana tekan, maka pemahaman tentang pesawat uap dan bejana tekan serta syarat-syarat K3 adalah sangat penting supaya dapat melakukan pengawasan K3 pada pesawat uap dan bejana tekan. Hal ini juga ditetapkan dalam UU No.1 Tahun 1970 pasal 3, “Pengawasan tidak hanya pada produk namun diawali dari proses produksi atau pembuatan pesawat uap dan bejana tekan yang banyak dilakukan proses pengelasan, pengujiaan produk hingga penerbitan ijin pemakaian pesawat uap dan bejana tekan”.

Agar tidak terjadi ledakan, suatu ketel harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

1. Harus hemat dalam pemakaian bahan bakar. Hal ini dinyatakan dalam rendemen atau daya guna ketel.
2. Berat ketel dan pemakaian ruangan pada suatu hasil uap tertentu harus kecil.
3. Paling sedikit harus memenuhi syarat-syarat dari Direktorat Bina Norma Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.

Berikut ini sumber bahaya pada pesawat uap, antara lain :

1. Bila manometer tidak berfungsi dengan baik, atau bila tidak dikalibrasi dapat menimbulkan peledakan karena si operator tidak mengetahui tekanan yang sebenarnya dalam boiler dan alat lain tidak berfungsi.
2. Bila safety valve tidak berfungsi dengan baik karena karat atau sifat pegasnya menurun.
3. Bila gelas duga tidak berfungsi dengan baik yang mana nosel-noselnya atau pipa-pipanya tersumbat oleh karat sehingga jumlah air tidak dapat terkontrol lagi.
4. Bila air pengisi ketel tidak memenuhi syarat.
5. Bila boiler tidak dilakukan blow down dapat menimbulkan scall atau tidak sering dikunci.
6. Terjadi pemanasan lebih karena kebutuhan produksi uap.
7. Tidak berfungsinya pompa air pengisi ketel.
8. Karena perubahan tak sempurna atau rouster, nozel fuel tidal berfungsi dengan baik.
9. Karena umur boiler sudah tua sehingga material telah mengalami degradasi kualitas.

Dalam proses pembuatannya perlu dilakukan pemilihan material yang tahan korosi bila terlalu mahal atau tidak ada di pasaran maka dapat dipilih material dengan laju korosi yang paling lambat namun perlu dilakukan inspeksi secara berkala untuk menghindari terjadinya kebocoran atau ledakan.

Rabu, 22 Februari 2017

Apa itu Black Out ?

Apa itu Black Out ?
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com- Mati listrik atau sering disebut “mati lampu” merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi banyak orang, terlebih lagi bagi para pelaku bisnis dan industri, atau dalam istilah kelistrikan disebut Black Out. Kenapa Black Out dapat terjadi? apa yang menyebabkan Black Out?
Black Out atau padam total adalah keadaan dimana hilangnya seluruh sumber tenaga pada suatu sistem tenaga listrik. Karena proses bisnis PLN yang kompleks dari hulu ke hilir, antara lain dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Pembangkitan, Transmisi dan Distribusi, maka kehandalan tiap – tiap sistem harus dipertahankan dan dijaga, agar kontinuitas penyaluran tidak terganggu  dan terhindar dari padam total (Black Out).
Dari pengalaman saya bekerja selama 2 (dua) tahun di Bidang Distribusi PLN, maka saya ingin berbagi agar para pembaca  mengetahui apa saja penyebab – penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya Black Out.
Sisi hulu (Pembangkitan dan Transmisi)
Ketidaksiapan pembangkit merupakan salah satu penyebab padam listrik dari sisi hulu. Pada sistim Pembangkit Interkoneksi atau pembangkit yang saling terhubung satu sama lain, jika ada salah satu pembangkit jatuh maka pembangkit yang lain harus memikul beban pembangkit yang jatuh tersebut. Karena beban yang berlebih maka pembangkit lainnya juga ikut jatuh. Seperti halnya jika ada 2 (dua) orang yang mendayung satu sampan, jika satu orang tidak ikut mendayung maka yang lainnya akan merasa kelelahan akibat beban yang terlalu berat dan akhirnya sampan terbalik dihantam gelombang.
Untuk memulihkan sistim yang jatuh tadi juga memerlukan waktu, jadi kenapa jika saat terjadi mati listrik diharapkan pelanggan agar dapat bersabar. Contohnya untuk PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) tidak bisa serta merta setelah mati dapat langsung dihidupkan begitu saja setelah terjadi Black Out, oleh karena itu pembaca patut mengetahui suatu PLTM membutuhkan listrik dari pembangkit lain untuk memompa oli, membuka valve, menyalakan instrumen elektronik, dan sebagainya. Biasanya PLTM memerlukan pembangkit yang dapat melakukan Black Start atau pembangkit yang berfungsi sebagai penggerak mula (Prime Movers). Black start dilakukan oleh Generator yang digerakan oleh mesin Diesel yang notabanenya hanya memerlukan accu atau angin untuk melakukan start engine, yang kita kenal sebagai PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel). Kemudian setelah PLTD beroperasi dan menghasilkan listrik, lalu dapat mensupply ke PLTM barulah sistem Interkoneksi dapat berjalan lagi. Selanjutnya tahap penormalan dilakukan agar supply energi listrik dapat tersalurkan sampai ke sisi pelanggan.
Sisi hilir (Distribusi) 
Kehandalan sistim Distribusi sama pentingnya dengan sistim pembangkitan, bak mata uang yang memiliki 2 sisi, keduanya harus berjalan saling mengisi. Motto dari bidang Distribusi yang selalu kami pegang adalah ” pantang padam, jika padam jangan lama, jika sudah menyala jangan padam lagi”.
Melokalisir gangguan agar tidak meluasnya pemadaman adalah tugas bidang Distribusi. Gangguan pada Jaringan Distribusi dapat diakibatkan oleh faktor Eksternal dan Internal.
Faktor Eksternal, antara lain :
PetirPepohonanPekerjaan/sumber lainBinatangPenggalian
Faktor Internal :
Dapat diakibatkan oleh kondisi komponen dan peralatan yang terpasang di jaringan, baik karena usia maupun karena kesalahan pemasangan (human error).
Dari beberapa hal diatas, gangguan jaringan yang paling banyak terjadi adalah gangguan yang diakibatkan oleh pohon, mulai dari dahan pohon yang menyentuh jaringan sampai pohon yang tumbang, yang mengakibatkan robohnya jaringan.  Untuk itu selayaknya sebagai sesama pengguna listrik dan selebihnya sebagai insan PLN saya menghimbau agar para pembaca bersama – sama dapat menjaga jaringan listrik yang ada disekitar kita, yaitu dengan tidak menanam pohon dibawah jaringan dan tidak menebang pohon yang ada didekat jaringan tanpa pemberitahuan kepada petugas PLN.
Oleh karena itu pada saat mati listrik atau kalo’ kata orang “mati lampu” para pembaca dapat mengetahui bahwa dibalik semua itu ada orang – orang yang sedang berjuang dan berusaha.
Dari hulu sampai hilir,
Dari pembangkitan sampai Distribusi
Agar listrik dapat menyala kembali.

Senin, 20 Februari 2017

Apa itu AMR ?

Apa itu AMR ?
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Automatic Meter Reading (AMR) merupakan salah satu solusi untuk bidang elektronika dalam melakukan pembacaan dan pemakaian energi listrik. Dimana pemakai Automatic Meter Reading (AMR) dapat memonitoring pemakaian daya listrik. Dalam pengoperasiannya sistem Automatic Meter Reading (AMR) melakukan pembacaan energi listrik dengan cara menurunkan terlebih dahulu tegangan listrik dari 40 KV menjadi 220 V menggunakan current transformer, kemudian tegangan dikonversikan menjadi data digital pada mesin meteran agar dapat diukur dengan parameter pengukuran seperti daya, energi, dll. Setelah ini data digital masuk ke bagian pengolahan dan komunikasi, pada bagian ini data digital dapat disimpan ke memori, ditampilkan lewat LCD display, atau dikirimkan ke database PLN lewat modem.
AMR (Automatic Meter Reading) merupakan aplikasi ini digunakan untuk pengendalian dan pemantauan tenaga listrik pada pelanggan. Apabila fasilitas ini digunakan oleh PLN, maka meter listrik pada pelanggan dapat dibaca secara online dan sistem billing menggunakan paket program yang sudah tersedia.
Automatic Meter Reading (AMR) juga sering disebut sistem pembacaan meter jarak jauh secara otomatis, terpusat dan terintegrasi dari ruang kontrol melalui media komunikasi telepon publik (PSTN), telepon selular (GSM), PLC atau gelombang radio, menggunakan software tertentu tanpa terlebih dahulu melakukan pemanggilan (dial up) secara manual. Sistem AMR diterapkan pada pelanggan potensial dengan daya terpasang diatas 197 kVA. 
Konfigurasi peralatan yang digunakan :
1. meter elektronik atau digital yang dipasang di pelanggan.
2. modem dan saluran telepon.
3. komputer yang terdapat diruang kontrol.
Dengan dipasangnya AMR pada pelanggan maka pemakaian kwh oleh pelanggan dapat dipantau / dibaca setiap saat dari kantor PLN dengan hasil yang lebih akurat dengan bantuan aplikasi komputer sehingga kesalahan baca yang dilakukan pertugas tidak akan terjadi dan kepercayaan pelanggan kepada PLN dapat tetap terjaga.
MANFAAT AMR
- Pemakaian kwh oleh pelangggan dapat dipantau / dibaca setiap saat.
- Hasil pembacaan meter lebih Akurat.
- Evaluasi beban pelanggan.
- Upaya peningkatan mutu pelayanan melalui data langsung penggunaan energi listrik yang dikonsumsi oleh pelanggan yang bersangkutan
CARA KERJA AMR
Awalnya, pembacaan meter dilakukan dengan menggunakan kabel (wired) atau direct dialling/reading. Komputer terhubung ke meter dengan menggunakan kabel komunikasi (RS-232 atau RS-485) atau optical probe jika pembacan dilakukan di lapangan. Namun belakangan ini, banyak teknologi komunikasi yang dapat digunakan oleh sistem AMR. Seperti PSTN (telpon rumah), GSM, Gelombang Radio, PLC (Power Line Carrier), dan terakhir, memungkinkan pembacaan meter menggunakan LAN/WAN/WIFI untuk meter yang sudah support TCP/IP.
Digital KWH meter ini dikontrol oleh sebuah mikrokontroler dengan tipe AVR90S8515 dan menggunakan sebuah sensor digital tipe ADE7757 yang berfungsi untuk membaca tegangan dan arus (dengan beban mencapai 500 Watt) untuk mengetahui besar energi yang digunakan pada instalasi rumah. Seven Segment sebagai penampil data besaran energi listrik yang digunakan di rumah.Dari komponen-komponen tersebut dihasilkan sebuah KWH meter moderen dengan tampilan digital yang dapat mengukur besaran penggunaan energi, dengan batasan maksimal beban 500 watt. Dengan sebuah system pembayaran moderen membeli sebuah voucher elektronik, berisi besaran digital (berfungsi sebagai pulsa) sebagai pembanding besaran energi yang digunakan. Secara otomatis sistem ini memutuskan tegangan rumah bila besaran tersebut mencapai nilai 0. Seluruh rangkaian membutuhkan daya 446,5mW diharapkan tidak merugikan PLN.
Dengan dipasangnya AMR pada pelanggan maka pemakaian kwh oleh pelanggan dapat dipantau / dibaca setiap saat dari kantor PLN dengan hasil yang lebih akurat dengan bantuan aplikasi komputer sehingga kesalahan baca yang dilakukan pertugas tidak akan terjadi dan kepercayaan pelanggan kepada PLN dapat tetap terjaga.
Keuntungan lain dalam penggunaan sistem AMR ini adalah :
- pencatatan meter lebih akurat.
- proses penerbitan rekening lebih cepat.
- penggunaan energi listrik dapat terpantau.
- upaya peningkatan mutu pelayanan melalui data langsung penggunaan energi listrik yang dikonsumsi oleh pelanggan yang bersangkutan.

Sabtu, 18 Februari 2017

Gangguan Pada Sistem Tenaga Listrik

Gangguan Pada Sistem Tenaga Listrik
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Didalam dunia kelistrikan tentunya banyak terjadi gangguan Macam-macam Gangguan antara lain sebagai berikut:
I. Gangguan Beban Lebih
Beban lebih mungkin tidak tepat disebut sebagai gangguan. Namun karena beban lebih adalah suatu keadaan abnormal yang apabila dibiarkan terus berlangsung dapat membahayakan peralatan, jadi harus diamankan, maka beban lebih harus ikut ditinjau.
Beban lebih dapat terjadi pada trafo atau pada saluran karena beban yang dipasoknya terus meningkat, atau karena adanya maneuver atau perubahan aliran beban di jaringan setelah adanya gangguan. Beban lebih dapat mengakibatkan pemanasan yang berlebihan yang selanjutnya panas yang berlebihan itu dapat mempercepat proses penuaan atau memperpendek umur peralatan listrik.
II. Gangguan Hubung Singkat (Short Circuit)
Gangguan hubung singkat dapat terjadi antara fasa (3 fasa atau 2 fasa) atau antara 1 fasa ke tanah, dan dapat bersifat temporair (non persistant) atau permanent (persistant). Gangguan yang permanent misalnya hubung singkat yang terjadi pada kabel, belitan trafo atau belitan generator karena tembusnya (break downnya) isolasi padat. Gangguan temporair misalnya akibat flashover karena sambaran petir, pohon, atau tertiup angin. 
Gangguan hubung singkat dapat merusak peralatan secara termis dan mekanis. Kerusakan termis tergantung besar dan lama arus gangguan, sedangkan kerusakan mekanis terjadi akibat gaya tarik-menarik atau tolak-menolak.
Keterangan pada gambar di atas :
1. Hubung singkat 1 fasa ke tanah
2. Hubung singkat 2 fasa (antar fasa)
3. Hubung singkat 2 fasa ke tanah
4. Hubung singkat 3 fasa
5. Hubung singkat 3 fasa ke tanah
III. Gangguan Tegangan Lebih
Tegangan lebih dapat dibedakan sebagai berikut :
Tegangan lebih dengan power frequencyTegangan lebih transient
Tegangan lebih transient dapat dibedakan - Surja Petir (Lightning surge)
- Surja Hubung (Switching surge)
Timbulnya tegangan lebih dengan power frequency, dapat terjadi karena :
- Kehilangan beban atau penurunan beban di jaringan akibat switching,  karena gangguan atau karena maneuver.
- Gangguan pada AVR (Automatic Voltage Regulator) pada generator atau pada on load tap changer dari trafo.Over speed pada generator karena kehilangan beban.
IV. Gangguan Kurangnya Daya
Kekurangan daya dapat terjadi karena tripnya unit pembangkit (akibat gangguan di prime movernya atau di generator) atau gangguan hubung singkat di jaringan yang menyebabkan kerjanya relay dan circuit breakernya yang berakibat terlepasnya suatu pusat pembangkit dari sistem. Jika kemampuan atau tingkat pembebanan pusat atau unit pembangkit yang hilang atau terlepas tersebut melampaui spinning reverse system, maka pusat-pusat pembangkit yang masih ada akan mengalami pembebanan yang berkelebihan sehingga frequency akan merosot terus, yang bila tidak diamankan akan mengakibatkan tripnya unit pembangkit lain (cascading) yang selanjutnya dapat berakibat runtuhnya (collapse) sistem (pemadaman total).
V. Gangguan Ketidakstabilan (Instability)
Gangguan hubung singkat atau kehilangan pembangkit dapat menimbulkan ayunan daya (power swing) atau yang lebih hebat dapat menyebabkan unit-unit pembangkit lepas sinkron (out of synchronism). Power swing dapat menyebabkan relay pengaman salah kerja yang selanjutnya menyebabkan gangguan yang lebih luas. Lepas sinkron dapat mengakibatkan berkurangnya pembangkit karena tripnya unit pembangkit tersebut atau terpisahnya sistem, yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas bahkan runtuh (collapse).
Upaya Mengatasi Gangguan
Dalam sistem tenaga listrik, upaya untuk mengatasi gangguan dapat dilakukan dengan cara :
I. Mengurangi Terjadinya Gangguan
Gangguan tidak dapat dicegah sama sekali, tapi dapat dikurangi kemungkinan terjadinya sebagai berikut :
Peralatan yang dapat diandalkan adalah peralatan yang minimum memenuhi persyaratan standart yang dibuktikan dengan type test, dan yang telah terbukti keandalannya dari pengalaman. Penggunaan peralatan di bawah mutu standart akan merupakan sumber gangguan.
Penentuan spesifikasi yang tepat dan design yang baik sehingga semua peralatan tahan terhadap kondisi kerja normal maupun dalam keadaan gangguan, baik secara elektris, thermis maupun mekanis.
Pemasangan yang benar sesuai dengan design, spesifikasi dan petunjuk dari pabrik.
Penggunaan kawat tanah pada SUTT/SUTET dengan tahanan pentanahan kaki tiang yang rendah. Untuk pemeriksaan dan pemeliharaan, maka konduktor pentanahannya harus dapat dilepas dari kaki tiangnya.
Penebangan atau pemangkasan pohon-pohon yang berdekatan dengan kawat fasa SUTM dan SUTT harus dilakukan secara periodik. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan tidak hanya jaraknya dalam keadaan tidak ada angin, melainkan juga dalam keadaan pohon-pohon tersebut ketika ditiup angin.
Penggunaan kawat atau kabel udara berisolasi untuk SUTM harus dipilih dan digunakan secara selektif.
Operasi dan pemeliharaan yang baik.
Menghilangkan atau mengurangi penyebab gangguan atau kerusakan melalui penyelidikan.
II. Mengurangi Akibat Gangguan
Menghilangkan gangguan sama sekali dalam suatu sistem tenaga listrik merupakan usaha yang tidak mungkin dapat dilakukan. Oleh karena itu maka usaha yang dapat dilakukan adalah mengurangi akibat kerusakan yang ditimbulkannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan adalah :

Mengurangi besarnya arus gangguan. Untuk mengurangi arus gangguan dapat dilakukan dengan cara : menghindari konsentrasi pembangkitan (mengurangi short circuit level) menggunakan reaktor dan menggunakan tahanan untuk pentanahan netralnya.
Penggunaan lighting arrester dan penentuan tingkat dasar isolasi (BIL) dengan koordinasi isolasi yang tepat.
Melepaskan bagian sistem yang terganggu dengan menggunakan circuit breaker dan relay pengaman.
Mengurangi akibat pelepasan bagian sistem yang terganggu dengan cara :
1. Penggunaan jenis relay yang tepat dan penyetelan relay yang selektif agar bagian yang terlepas sekecil mungkin.
2. Penggunaan saluran double.
3. Penggunaan automatic reclosing.
4. Penggunaan sectionalizer pada JTM.
5. Penggunaan spindle pada JTM atau setidak-tidaknya ada titik pertemuan antar saluran sehingga ketika ada kerusakan atau pemeliharaan tersedia alternative supply untuk maneuver.
6. Penggunaan peralatan cadangan.
Penggunaan pola load shedding dan sistem splitting untuk mengurangi akibat kehilangan pembangkit.
Penggunaan relay dan circuit breaker yang cepat dan AVR dengan response yang cepat pula untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan gangguan instability (lepas sinkron).

Jumat, 17 Februari 2017

Derating

Derating
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Derating adalah turunnya daya mampu suatu pembangkit akibat kondisi operasi yang tidak normal, yang bila bebannya dinaikkan akan berakibat tripnya pembangkit tersebut. Bila turunnya daya mampu akibat alam, disebut Variasi Musim.
Disini bila kita memakai bahasa terang, penyebab derating adalah salah urus Pembangkit, baik dari sisi engineering ataupun financing. Alasan yang biasa kita dengar: ‘ mesin tua’ adalah alasan yang tidak profesional. Mesin (fisiknya, bukan teknologinya) tidak pernah tua ! Bila mesin yang umurnya 25 tahun isi perutnya diganti baru semua, kinerjanya akan seperti mesin baru !
Bila kita membangun suatu Pembangkit, seharusnya kita konsekuen dengan biaya yang seharusnya tersedia untuk memelihara sepanjang hidup yang kita rancang. Bukan seadanya dana saat itu yang tersedia, pokoke sekian, cukup gak cukup ya dicukup-cukupkan. seperti yang selama ini kita anut. Penganggaran yang kita anut selama ini ikut menyumbang adanya derating.
Untuk menormalkan pembangkit yang mengalami derating berat, sebaiknya PLN Pusat mengembangkan Replacement Policy, yang akan menjustifikasi secara financial, apakah pembangkit tersebut di rehabilitasi, atau diganti pembangkit baru yang lebih efisien.
Pada neraca daya suatu system kelistrikan, derating bukan satu-satunya penyebab turunnya daya mampu system. Masih banyak hal lain yang perlu mendapat perhatian secukupnya (sampai cukup, bukan dicukup-cukupkan).
Yang terakhir tapi tak kalah penting adalah membangun saling percaya antara pengelola Anggaran dan pengelola Pembangkitan dalam menyusun anggaran Pembangkitan, sehingga bisa tersedia anggaran yang cukup dengan efektifitas tinggi. Saling percaya ini tidak akan tercapai tanpa kejujuran nurani semua pihak.
• P L T D
Pembangkit jenis ini terkenal rajanya derating. Penyebab derating yang umum adalah :
1. Keausan parts akibat gesekan. Banyak parts PLTD yang saling bergesek, oleh karena itu umur parts nya sangat pendek. Umur tersebut akan menjadi lebih pendek, premature, bila operatornya memaksakan ramping rate yang lebih tinggi dari kemampuannya. Bila keausan ini dibiarkan, tidak segera dilakukan penggantian parts yang aus, karena tidak ada dana, atau hal lain, terjadilah derating, yang bertambah lama akan bertambah besar.
Derating ini akibat energy yang tersedia tidak bisa diubah menjadi kerja dalam jumlah yang seharusnya, karena bocor keluar atau kedalam, blow-by.
Sebetulnya pembangkit jenis ini tidak layak untuk memikul beban dasar, hanya dipakai sebagai peakers atau emergency units.
2. Sistem air pendingin yang kurang mendapat perhatian. Kenapa kurang perhatian, itulah permasalahan terbesar PLN : pengelolanya kurang mendapat pelatihan tentang kimia air.
Air pendingin PLTD, dalam hal ini yang dimaksud adalah jacket water, air yang langsung bersinggungan dengan mesin, secara kontinyu, 24 jam sehari, 7 hari seminggu bersirkulasi dalam keadaan panas. Sifat air, bila dipanaskan akan sangat aktif, beberapa unsur kimianya mudah mengendap menjadi kerak dan laju korosi logam akan menjadi tinggi.
Oleh karena itu, jacket water harus bebas mineral, atau demineralized water.
Memerlukan external treatment untuk memproduksi demineralized water, misalnya dengan menggunakan RO (Reverse Osmosis) dan internal treatment untuk menjaga kualitas air, agar tidak menjadi elektrolit dari proses korosi.
Selain itu, pemeliharaan/pembersihan Penukar kalor dari jacket water, water-water cooler atau water-air cooler (radiator). juga harus mendapat perhatian lebih serius. Bila penukar kalor kotor, suhu jacket water naik dan agar tidak alarm/trip, terpaksa beban diturunkan, disinilah derating terjadi.
3. Karena mesin ini menggunakan udara sebagai media proses, setiap ada perubahan suhu udara luar, kinerjanya pasti terpengaruh. Bila suhu udara naik, daya mampu turun, dan sebaliknya. Disini peran intercooler sangat dominan. Pemeliharaan kebersihan tubes dari intercooler sangat penting.
• P L T G
Pembangkit jenis ini juga menggunakan udara dalam jumlah sangat besar sebagai media prosesnya, oleh karena itu, perubahan suhu dan tekanan udara luar sangat berpengaruh terhadap kinerjanya.
Penyebab derating yang umum adalah :
1. Kenaikan suhu udara luar. Bahkan antara siang dan malam, daya mampu PLTG bisa berbeda. Bila suhu udara luar naik, kinerja akan turun.
2. Tekanan udara luar. Bila tekanan udara luar turun, kinerja juga turun. Bila cuaca mendung, tekanan udara luar turun, bila cerah, tekanan udara naik. Tekanan udara masuk kompresor juga bisa turun bila kondisi filter udara kotor. Oleh karena itu, penggantian filter juga harus konsekwen. Bila memiliki PLTG, harus konsekwen menyediakan biaya untuk filter. Bila tidak, derating ancamannya.
3. Tekanan udara keluar kompresor. Bila tekanan ini turun, kinerja PLTG akan turun. Tekanan udara keluar kompresor turun di akibatkan kotornya sudu kompresor. Memerlukan pencucian sudu kompresor dengan prosedur yang ada.
4. Suhu exhaust gas tinggi. Beban PLTG sangat dibatasi oleh suhu exhaust, karena bersangkutan dengan ketahanan material sudu turbin plus sistem pendingin sudu yang ada. Penyebab tingginya suhu exhaust ini disebabkan oleh tiga hal diatas ditambah kemungkinan sudu turbin kotor atau ujung sudu yang terbakar (overheating).
• P L T A
PLTA menggunakan air alam secara sekali lewat.
Derating pada PLTA umumnya disebabkan oleh alam yaitu curah hujan dan kondisi catchment area. Bila curah hujan tinggi daya mampu tinggi, bila curah hujan rendah , daya mampu PLTA bisa tinggal 20%. Bila catchment area baik, daya mampu tinggi tadi bisa lebih lama, bila tidak, air cepat habis, seperti sawah tadah hujan.
• P L T U
Karena PLTU menggunakan air olahan sebagai media prosesnya, hampir tidak ada material yang bergesekan, maka PLTU sebenarnya bebas dari ancaman derating. Yang diperlukan hanyalah pelatihan intensif personelnya dan konsistensi tinggi tanpa lelah dari manajemennya.
• P L T G U
Karena PLTGU adalah gabungan dari PLTG dan PLTU, maka sifat-sifat merupakan gabungan dari keduanya.
SOLUSI DERATING
Apabila suatu pembangkit mengalami derating berat yang memerlukan biaya besar untuk menormalkannya, kita memerlukan tools untuk justifikasi finansial, apakah pembangkit tersebut di rehabilitasi atau diganti baru. Tools tersebut biasanya memakai replacement policy yang sebaiknya dibakukan oleh PLN Pusat.
Untuk kondisi PLN, bisa juga dilakukan : pembangkit yang derating diganti pembangkit baru yang lebih efisien dengan unit size lebih besar, sedangkan pembangkit lama di rehabilitasi dan di relokasi ke sistem yang lebih kecil.
Kondisi PLN yang kurang sehat secara financial seperti saat ini, hendaknya bukan menjadi halangan untuk melakukan ini semua.
DERATING PADA SYSTEM
Istilah derating pada sistem sangat menyesatkan. Sama sekali berbeda dengan derating yang telah kita bahas diatas. Banyak pertanyaan masyarakat awam diluar sana yang dari dulu sampai sekarang mempertanyakan kenapa PLN yang memiliki daya terpasang 25.000 MW (misalnya), baru dibebani 20.000 MW (misalnya lagi), sudah mengalami pemadaman bergilir, kemudian timbul pernyataan menyesatkan berikutnya : ada ketidak efektifan pengelolaan assets di PLN.
Seperti yang kita pahami bersama bahwa data agregat seperti diatas, baik data daya terpasang maupun beban puncak, tidak bisa dijumlahkan, selain dalam sistem yang sama. Data agregat yang biasa disajikan daerah ataupun pusat, bila di analisa, tidak memiliki arti yang benar, tidak bisa ditarik kesimpulan apapun. Untuk konsumsi masyarakat awam, perlu dicari data ataupun cara analisa yang khusus, yang tidak terlalu menyesatkan.
Ada lagi kebiasaan PLN yang banyak membingungkan orang, yaitu tentang kapasitas pembangkit. Di PLN, bila orang bertanya tentang kapasitas pembangkit, kawan kita pasti menyebut daya terpasang, gross capacity, name plate capacity, sedangkan orang dari negara lain menangkapnya sebagai daya mampu, nett capacity. Sudah waktunya PLN merubah terminology menjadi :
daya = daya netto (daya terpasang – pemakaian sendiri).
Untuk keperluan analisa harus dibahas setiap sistem kelistrikan, baik besar ataupun kecil. Kita sebaiknya melakukan edukasi kepada masyarakat tentang seluk beluk kelistrikan dan cara evaluasinya, secara terus menerus, tidak mengenal bosan.
Selain beban puncak dan daya terpasang, selisih dari keduanya memiliki komposisi : pemakaian sendiri, cadangan operasi dan pembangkit tak siap. Sebagai gambaran selengkapnya dibawah ini contoh neraca daya (potret sesaat rincian kondisi supply-demand) dari suatu sistem.
Contoh (typical) neraca daya suatu sistem
1. Beban Puncak ………………………………………………………………………………. 100 %
2. Pembangkit tak siap ……………………………………………………………………. 22 %
• Derating ………………………….. 2% – 6 %
• Maintenance outages …….. 2% – 6%
• Forced outages ……………… 2% – 7%
• Planned outages …………….. 5% – 8%
• Variasi musim ………………… 1% – 10%
3. Cadangan operasi ( = daya kit terbesar) …………………………………. 9 %
4. Pemakaian sendiri ……………………………………………………………………….. 5 %
________________________________________________
Daya terpasang yang diperlukan ……………………. 136 %
Untuk melayani beban puncak dengan baik, diperlukan daya terpasang sebesar 1,36 kali beban puncak.
Angka-angka diatas sangat kondisional.
Keterangan (detilnya perlu kesepakatan antara pengelola pembangkitan dengan operator sistem) :
- Derating : penurunan daya mampu dari yang seharusnya (hasil commissioning).
- Maintenance outages : keluar sistem dengan pemberitahuan sebelumnya, karena perlu perbaikan.
- Forced outages : keluar sistem karena trip ataupun pemberitahuan mendadak.
- Planned outages : keluar sistem yang telah direncana diawal tahun.
- Variasi musim : penurunan daya mampu karena alam, musim, suhu ambient.

Kamis, 16 Februari 2017

Reliability of Power Plant

Reliability of Power Plant
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Salah satu topik di Power Engineering yang sangat menantang adalah studi keandalan (reliability). Lingkup studi ini cukup luas, seperti mempelajari kalkulasi keandalan pembangkitan, transmisi, sistem interkoneksi dan distribusi. Tidak ketinggalan, biasanya kita juga dikenalkan dengan konsep Simulasi Monte Carlo untuk sistem tenaga listrik (STL).
STL sangat lah kompleks karena :
- Besarnya secara fisik
- Tersebar luas secara geografisAdanya interkoneksi, baik nasional maupun internasional
- Keterbatasan yang dimiliki operator itu sendiri
- Energi listrik tidak dapat disimpan dengan efektif dan efisien dalam jumlah yang besar
- Perilaku sistem yang tidak terduga
Istilah “reliability” berhubungan dengan kemampuan sistem untuk menyalurkan listrik ke semua titik penggunanya dalam standar dan jumlah yang sesuai atau bisa diterima.
Ada dua hal utama yang biasa dikaji dalam reliability:
- Kecukupan (adequacy)
- Keamanan sistem (security)
Adequacy assesment mempelajari kecukupan fasilitas yang dibutuhkan sistem untuk memenuhi kebutuhan sistem. Biasanya assesment ini dilakukan pada fase desain.
Security assesment mempelajari kemampuan sistem untuk tanggap terhadap gangguan. Hal ini sering dihubungkan dengan respon dinamis sebuah sistem. Assesment ini  sering dilakukan pada fase operasional.
Realibility at what cost ?
Analoginya bisa berupa pilihan sepeda motor apa yang akan kita beli (masalah pemeliharaan kita kesampingkan dulu). Mau beli motor Cina apa motor Jepang? Kalau keandalan bukan hal yang penting, kita bisa beli motor Cina. Yang penting bisa buat pergi ke pasar, kalau mogok yah itu memang resikonya. Tapi jika tiap pagi kita harus pergi ke kantor tepat waktu, maka beli motor Jepang, dengan berbagai reputasi keandalannya, sangat lah masuk akal.
Probabilitas outage dalam STL dapat dikurangi dengan menaikkan investasi pada fase perencanaan. Sebaliknya, investasi yang berlebihan akan menyebabkan inefisiensi dan tarif yang lebih mahal. Dalam STL berbasis pasar, biaya penyediaan listrik dan keandalan adalah hal yang diperjualbelikan dalam fase desain dan operasional.
Teknik Pengkajian Realibility
Teknik Deterministik, Teknik ini teknik tradisional yang tidak melihat kemungkinan atau stokastik alami sebuah STL.Teknik Probabilistik, Teknik ini menggunakan pendekatan analitis dan simulasi. Teknik ini yang paling baik untuk mengakomodasi perilaku STL. Contoh toolnya seperti Power Factory, RAPS.
Indeks Keandalan Deterministik
• Kriteria % Marjin Cadangan (% Reserve Margin) :Kapasitas Terpasang ≥ Max. Demand + besaran % Reserve Margin.
• Misal jika Sistem Jawa Bali Max Demand-nya 17000 MW dan besaran Reserve Margin-nya ditentukan 20% maka Kapasitas Terpasangnya minimal 17000 + 3400 = 20400 MW.
• Besaran %Reserve Margin ini dievaluasi dari waktu ke waktu dengan mempertimbangkan ENS (energy not served) dan LOLP (lost of load probability) yang dikehendaki (lihat dalam OC 2.2
Aturan Jaringan STL Jamali 2007)
Jatuhnya Unit Terbesar / Kriteria Contingency :
• Total Kapasitas Pembangkit Beroperasi + Cadangan Putar  ≥ Max. Demand + Unit Generator Terbesar (contingency size).
• Misal jika Max Demand 17000 MW, unit terbesar adalah PLTU 660 MW, maka total kapasitas pembangkit dan cadangannya harus lebih besar dari 17000 + 660 = 17660. Jika yang beroperasi adalah 15000 MW dan cadangan (lihat OC 2.1) hanya 1000 MW (total, 15000 +1000 = 16000), maka STL dapat dikatakan defisit karena 16000 < 17660. Hampir dapat dipastikan, ketika peak load terjadi maka akan ada pemadaman (load shedding) untuk menjaga kestabilan sistem.
• Kriteria Jaringan :
N-1, atau N-2 dsb. Ambil contoh N-1, yang artinya apabila sembarang satu buah elemen STL (misal line transmisi, GCB, generator dll) gagal maka sistem tetap stabil.
• Energi yang Tidak Terlayani (Unserved Energy) < 0.002% Kebutuhan Energi Total (contoh di Australia)
Kenapa Pendekatan Probabilistik Digunakan ?
Sifat alami STL adalah stokastik / random / acak
- Tingkat force outage (FOR) sebuah unit pembangkit adalah fungsi dari jenis dan ukuran pembangkit.
- Tingkat gangguan di transmisi adalah fungsi dari panjang saluran, desain, lokasi dan lingkungan.
- Ketidakpastian realisasi beban dan peramalan beban.
- Perubahan sistem ketenagalistrikan
- Adanya deregulasi dan (mungkin terjadi di masa depan) privatisasi
- Adanya kekuatan pasar (belum terjadi di Indonesia)
Permasalahan seperti minimnya data, keterbatasan perhitungan, dan teknik pengkajian sudah bukan menjadi masalah besar lagi dengan semakin canggihnya hardware dan software komputer.
Indeks Keandalan Probabilistik
• Probabilitas load outage
• Perkiraan Energi yang Tidak Tersalurkan (estimated energy not supplied / EENS)
• Jumlah insiden outage
• Jumlah jam gangguan/interupsi
• Penyimpangan melampaui batas set tegangan
• Penyimpangan melampaui batas set frekuensi, dll.
Cara Pengkajian Keandalan secara Probabilistik
Teknik Analitis
• Berdasarkan prinsip penyebutan keadaan (state)
• Menyajikan kondisi aktual sistem dengan model matematis
• Sulit diterapkan pada STL yang besar
Teknik Simulasi
• Simulasi Monte Carlo (untuk sistem stokastik)
• Mengevaluasi indeks sistem dengan mensimulasi proses aktual dan sifat elemen sistem yang random.
• Dapat menangani sistem yang besar
• Memerlukan waktu perhitungan yang lama dan kapasitas penyimpanan yang besar
Dimana Kita Bisa Memakai Indeks-Indeks Keandalan ?
- Pada saat proses perencanaan :
a. Kriteria atau kebutuhan disain sistem
b. Identifikasi area atau titik-titik lemah yang memerlukan modifikasi atau penguatan
- Pada saat proses pengoperasian :
  Untuk memonitor kinerja sistem

Rabu, 15 Februari 2017

7 Cara Mencegah Korsleting Listrik di Rumah

7 Cara Mencegah Korsleting Listrik di Rumah
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Korsleting listrik atau hubungan pendek merupakan suatu hubungan dengan tahanan listrik yang sangat kecil yang mengakibatkan aliran listrik yang sangat besar. Kalau tidak ditangani bisa mengakibatkan ledakan dan kebakaran. Penyebab terjadinya korsleting listrik cukup beragam. Penyebab paling sering adalah kelalaian manusia yaitu menyambungkan kabel tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku–penumpukan beban yang berlebihan. Disamping itu, bisa jadi karena kabel listrik mengelupas dan menyebabkan saluran bertegangan menempel ke saluran netral.
7 Cara Mencegah Korsleting Listrik di Rumah
Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Tentunya kamu harus tahu dahulu bagaimana penggunaan listrik yang aman atau sesuai dengan yang dianjurkan oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara). Mengenai keamanan memang bukan sesuatu yang bisa ditawar menawar. Yuk, kita lihat 7 Cara Mencegah Korsleting Listrik di Rumah.
1. Jangan mengotak-atik atau menyambung langsung (bypass) peralatan pengaman baik sekring maupun Mini Circuit Breaker (MCB).
2. Jangan menumpuk steker secara berlebihan, karena berpotensi menimbulkan panas berlebihan yang bisa menyebabkan kebakaran.
3. Gunakan peralatan listrik yang berkualitas (berlambang SNI atau LMK). Jangan terlena harga murah yang ternyata berkualitas rendah.
4. Jangan biarkan tusuk kontak peralatan seperti TV,  menetap pada stop kontak pada waktu yang lama.
5. Hindari menggunakan tusuk kontak terlalu longgar.
6. Serahkan pada instalatir resmi untuk pemasangan baru atau menambah instalasi listrik di rumah atau bangunan.
7. Periksa instalasi listrik bangunan secara berkala, kurang lebih setelah 10 tahun dan selanjutnya 5 tahun.

Sabtu, 11 Februari 2017

8 Jenis Gangguan yang Menyebabkan Listrik PLN Mati

8 Jenis Gangguan yang Menyebabkan Listrik PLN Mati
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Pastinya urusan listrik ini terkadang terjadi diluar kontrol manusia. Agar kamu lebih mengerti mengenal mengapa listrik bisa padam, Ternyata alasannya bukan hanya kekurangan voltase atau kelebihan voltase saja tetapi cukup beragam secara teknis. Penasaran alasan apa saja yang menyebabkan listrik mati? Yuk kita cek gangguan apa saja yang menyebabkan listrik PLN mati.
8 Jenis Gangguan yang Menyebabkan Listrik PLN Mati
Terdapat banyak jenis gangguan listrik yang sering terjadi. Ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis gangguan listrik yang menjadi penyebab pemadaman listrik agar lebih mengenal masalah yang terjadi dengan listrik yang ada di tempat tinggal kita.
Power failure
Power failure merupakan gangguan listrik yang sering terjadi, yaitu kondisi sumber listrik pusat (utama) yang mati. Kalau ada perlengakapan elektronik di rumah kamu yang sedang nyala atau beroperasi saat terjadi listrik pln mati, gangguan ini dapat berdampak pada kerusakaan alat-alat elektronik. Beberapa sebab power failure adalah pemadaman bergilir, beban berlebih dan hubungan arus pendek.
Power Surge
Power Surge merupakan sebuah kondisi saat tiba-tiba voltase naik melebihi angka 100% dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh petir yang menyambar serta kita mematikan perlengkapan listrik yang bebanya cukup berat. Terjadinya power surge juga berdampak pada kerusakan peralatan listrik.
Power SAG
Power SAG terjadi ketika voltase menurun tiba-tiba. Contohnya yang awalnya 220 volt, bisa menurun hingga 80 persen. Hal ini juga berdampak buruk pada peralatan listrik. Gangguan ini disebabkan oleh pengoperasian alat elektronik yang mempunyai daya agak besar atau diatas daya listrik rumah kita.
Over Voltage
Over Voltage merupakan kondisi tegangan listrik yang melewati batas normal dalam kurun waktu yang lama dan sering terjadi atau bisa jadi setiap hari. Over Voltage bisa membuat alat elektronik menjad panas dan komputer bisa rusak hingga menghilangkan data yang ada.
Under Voltage
Berbeda dengan overvoltage, under voltage merupakan kondisi kurangnya tegangan listrik yang terjadi bisa hanya beberapa menit hingga berhari-hari. Sama halnya dengan gangguan listrik lainnya, kondisi ini bisa membuat alat elektronik rusak.
Frequency Variation
Keadaan frekuensi listrik yang naik turun atau tidak stabil dan berdampak pada kerusakan alat elektronik.
Electrical Line Noise
Gangguan gelombang listrik yang disebabkan oleh frekuensi radio, sambaran petir atau instalasi listrik kurang baik.
Switching Transient
Turunnya voltase dalam kurun waktu sangat cepat bahkan lebih cepat dibandingkan undervoltase.

Rabu, 08 Februari 2017

Pengolahan Air Pada PLTU

Pengolahan Air Pada PLTU

Tahap Filtrasi

Air laut yang menjadi bahan baku utama dialirkan menuju sea water pit, dan untuk menghambat pertumbuhan biota-biota laut diinjeksikan sodium hipoklorit dengan kadar tertentu. Selanjutnya air laut difiltrasi menggunakan travelling screen untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang berukuran besar.

Dari sea water pit, air laut dialirkan menuju primary filter dengan menggunakan sebuah pompa. Diperjalanan, air tersebut diinjeksi senyawa koagulan FeSO4 yang berfungsi untuk mengumpulkan partikel-partikel berukuran kecil menjadi partikel-partikel berukuran lebih besar sehingga lebih mudah dilakukan proses filtrasi.

Setelah injeksi FeSO4, air dialirkan menuju ke filter pertama yang disebut denganPrimary Filter, dengan tujuan untuk menahan suspended solids yang terkandung di dalam air laut. Filter ini berjenis multi media filter yang berarti menggunakan beberapa jenis komponen yang berbeda pada satu filter. Komponen-komponen tersebut adalah antrasit pada lapisan atas, pasir pada lapisan tengah, garnet pada lapisan paling bawah, dan gravel sebagai media pendukung. Dariprimary filter air dialirkan menuju polishing filter yang memiliki komponen sama dengan primary filter dengan tujuan untuk lebih membersihkan air dari suspended solids yang ada.

Setelah melalui proses filtrasi di primarydan polishing filter, air ditampung di sebuah tangki bernama filter tank. Air difilter tank selain akan menuju ke proses selanjutnya juga digunakan untuk prosesbackwash pada primary dan polishing filter. Tahapan selanjutnya, air dari filter tankdialirkan menuju cartridge filter yang memiliki clearence sebesar 5 μm dengan tujuan untuk melindungi membran reverse osmosis dari suspended solids yang masih mungkin terkandung di dalam air.

Tahap Desalinasi

Air dari cartridge filter dialirkan menuju proses Desalination Reverse Osmosis.Desalination Reverse Osmosis adalah proses filtrasi dengan menggunakan membran semi permeable dengan jalan membalik proses Osmosis. Pada tahap ini, air laut sudah berubah menjadi air tawar, dari konduktivitas 40.000-50.000 μS/cm sebelum masuk proses menjadi 700-800 μS/cm di akhir proses reverse osmosis ini.

Selanjutnya air akan mengalami prosesdecarbonator atau proses menghilangkan kandungan CO2 dalam air. CO2 harus dihilangkan karena ia akan membentuk bikarbonat jika di dalam air dan dapat menurunkan pH. Proses ini dengan jalan menghembuskan udara ke dalam tangki air sisi bawah menggunakan blower, sehingga udara akan mengikat CO2 dalam air.

Setelah itu air ditampung kembali di tangkiPermeate Storage Tank. Dari tangki ini, air dialirkan ke dua jalur yaitu jalur pertama untuk digunakan sebagai potable waterdan service water, dan jalur yang kedua adalah menuju proses demineralisasi.

Air yang digunakan untuk potable danservice water mengalami proses-proses lanjutan sebagai berikut:

Diinjeksi soda ash yang bertujuan untuk menaikkan pH menjadi 9,2-9,6.Penambahan sodium silikat untuk membuat lapisan pasif di permukaan pipa.Air untuk potable water dialirkan ke carbon filter yang bertujuan untuk menghilangkan warna, bau, dan rasa. Kemudian diinjeksikan hipoklorit untuk membunuh mikroorganisme air. Selanjutnya potable water masuk ke potable water tanksebelum dapat dipergunakan secara umum.Sedangkan service water dialirkan keservice tank dan dipergunakan untuk keperluan umum serta kebutuhan pemadam kebakaran.

Tahap Demineralisasi

Tahap ini menggunakan air dari hasil tahap desalinasi. Demineralisasi juga menggunakan proses reverse osmosis, yang membedakan adalah penggunaan membran semi permeable jenis lain. Air yang keluar dari proses ini akan memiliki nilai konduktifitas sebesar hanya 20-30 μS/cm dari 1000 μS/cm pada saat sebelum proses.

Selanjutnya air dialirkan menuju mixed beddengan tujuan untuk menangkap ion-ion baik positif maupun negatif yang terdapat di dalam air dengan menggunakan resin. Resin merupakan polimerisasi dari difinil benzena dan stirine serta ditambah dengan gugus aktif. Kation resin memiliki gugus aktif H+ sedangkan anion resin memiliki gugus aktif OH-.

Prinsip Reverse Osmosis

Air hasil dari proses demineralisasi inilah yang selanjutnya dipergunakan sebagai media kerja untuk proses siklus air - uap air. Selain itu juga dipergunakan sebagai media kerja auxiliary cooling water dan pendingin pada stator generator.

Selasa, 07 Februari 2017

Sistem Proteksi Tenaga Listrik

Sistem Proteksi Tenaga Listrik

Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Pada dasarnya semua konstruksi jaringan distribusi tidak ada yang benar-benar aman dari gangguan yang datangnya dari dalam sistem itu sendiri maupun dari dari luar sistem. Gangguan tersebut merupakan potensi yang merugikan ditinjau dari beberapa hal, maka perlunya dipasang sistem proteksi yang berfungsi sebagai berikut:

• Mencegah atau membatasi kerusakan pada jaringan beserta peralatannya.

• Menjaga keselamatan umum.

• Meningkatkan kontinuitas pelayanan

Pada sistem distribusi 20 kV hal yang terpenting pada sistem proteksi selain alat proteksi itu sendiri, sistem pentanahan juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem proteksi itu sendiri. Misalnya ada gangguan fasa yang bocor ke tanah, maka bila sistem pentanahan tidak sesuai dengan sistem distribusi yang diproteksi, maka alat proteksi tidak akan bekerja dengan benar, sehingga dapat merusak peralatan jaringan maupun membahayakan keselamatan manusia.

Sistem pentanahan pada kenyataan di PLN terdapat beberapa pola, sehingga sistem proteksinya juga berbeda-beda. Pada perencanaan konstruksi jaringan distribusi untuk menentukan komponen jaringan, misalnya penghantar, harus dipertimbangkan besarnya arus gangguan hubung singkat ketanah dan selanjutnya sistem proteksi yang sesuai, sehingga tujuan membangun konstruksi jaringan distribusi yang aman dan menguntungkan dapat tercapai.

Prinsip Kerja Sistem Proteksi

Melakukan koordinasi dengan tegangan sistem tegangan tinggi seperti: 
• Gardu Induk (GI)
• Transmisi Pembangkitan.
• Mengamankan peralatan dari kerusakan dan gangguan.
• Menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan.
• Melokalisir gangguan.
• Secepatnya membebaskan pemadaman karena gangguan (manuver).
• Mengurangi frekwensi pemutusan.

Syarat-Syarat Sistem Proteksi

- Peka (sensitif).
- Cermat (selektivitas).
- Andal (reliability).
- Cepat.

PENYEBAB GANGGUAN DAN PERELATAN PROTEKSINYA

Gangguan Pada Pembangkit / Generator.

Gangguan jaringan hubung singkat  Satu fasa ke tanah. Dua fasa ke tanah Tiga fasa ke tanah

Dapat mengakibatkan teganggan dan arus yang mengalir pada setiap fasanya menjadi tidak seimbang, sehingga gangguan ini dapat merusak sistem dan juga dapat menyebabkan kerusakan pada Generator dan motor pengerak, sehingga dapat menyebabkan pemadaman aliran listrik. Oleh kerena itu dibutuhkan alat proteksi yang andal untuk mengamankan atau melindungi peralatan-peralatan yang ada di pembangkit energi listrik. mempercepat atau melokalisir apabila terjadi gangguan.

· Proteksi yang digunakan adalah:

Pemutus Tenaga / Circuit Breaker ( PMT/CB)Pemutus Daya (PMT) atau Circuit breaker (CB) adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang berfungsi untuk memutuskan hubungan antara sisi sumber tenaga listrik dan sisi beban yang dapat bekerja secara otomatis ketika terjadi gangguan atau secara manual ketika dilakukan perawatan atau perbaikan.

• Relay Proteksi.
Penggunaan pengaman pemutus daya untuk kerja otomatis perlu dilengkapi dengan peralatan tambahan yang dapat mendeteksi perubahan keadaan yang terjadi pada rangkaian. Peralatan tersebut berupa gulungan yang diberi daya dari sumber DC melalui saklar yang dioperasikan dengan peralatan khusus yang disebut relai (relay).Relai merupakan suatu peralatan yang dilengkapi dengan kontak-kontak yang mampu merubah rangkaian lain. Oleh karena itu pemutus tenaga yang dilengkapi dengan relai digunakan sebagai peralatan perlindungan suatu sistem tenaga dari kemungkinan kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan.

Gangguan Pada Saluran Transmisi.

Gangguan ini relatif jarang karena lokasinya memakai tower yang tinggi, namun tetap bisa terjadi, terutama gangguan yang disebabkan oleh petir, kawat yang putus atau disabotasi. Contoh sabotase adalah menggergaji tower sehingga tower menjadi roboh. Proteksi yang digunakan adalah:

         Komponen pengaman pada saluran udara transmisi tegangan tinggi, antara lain :

- Kawat Tanah Atau Grounding.Zeus L.E.C  Lightning Event Counter.

- Dipasang di sepanjang jalur SUTT yang berfungsi untuk mengetanahkan arus listrik saat terjadinya gangguan (sambaran) petir secara langsung. Pentanahan tiang untuk menyalurkan arus listrik dari kawat tanah (ground wire) akibat terjadinya sambaran petir. Terdiri dari kawat tembaga atau kawat baja yang di klem pada pipa pentanahan dan ditanam di dekat pondasi tower (tiang) SUTT.

Gangguan Pada Gardu Induk (GI).

Banyak sekali penyebab gangguan di gardu induk, seperti trafo jebol karena overload atau karena tua, oli trafo yang bocor, tersambar petir, isolator tembus, percikan api atau korona, kelembaban tinggi, peralatan pendukung terbakar dan lain-lain.Proteksi yang digunakan adalah:

• Neutral Grounding Resistance (NGR) adalah komponen yang dipasang antara titik netral trafo dengan pentanahan, dan Neutral Grounding Resistance (NGR) berfungsi untuk memperkecil arus gangguan yang terjadi.

• Circuit Breaker (CB) adalah peralatan pemutus, yang berfungsi untuk memutus rangkaian listrik dalam keadaan berbeban.Circuit breaker (CB) dapat dioperasikan pada saat jaringan dalam kondisi normal maupun pada saat terjadi gangguan. Kerena pada saat bekerja, CB mengeluarkan (menyebabkan timbulnya) busur api, maka pada CB dilengkapi dengan pemadam busur api.

• Lightning Arrester (LA) Berfungsi untuk melindungi (pengaman) peralatan listrik di gardu dari tegangan lebih akibat terjadinya sambaran petir (lightning surge) pada kawat transmisi, maupun disebabkan oleh surya hubung (switching surge). Dalam keadaan normal (tidak terjadi gangguan) LA bersifat isolatif atau tidak bisa menyalurkan arus listrik. Dan sebaliknya apabila terjadi gangguan LA akan bersifat konduktif atau menyalurkan arus listrik ke bumi.

Ø  Relay

Penggunaan pengaman pemutus daya untuk kerja otomatis perlu dilengkapi dengan peralatan tambahan yang dapat mendeteksi perubahan keadaan yang terjadi pada rangkaian. Peralatan tersebut berupa gulungan yang diberi daya dari sumber DC melalui saklar yang dioperasikan dengan peralatan khusus yang disebut relai (relay).Relai merupakan suatu peralatan yang dilengkapi dengan kontak-kontak yang mampu merubah rangkaian lain. Oleh karena itu pemutus tenaga yang dilengkapi dengan relai digunakan sebagai peralatan perlindungan suatu sistem tenaga dari kemungkinan kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan.

Gangguan Pada JTM. 

Banyak sekali gangguan yang dialami oleh Jaringan tegangan menengah (JTM) misalnya tertimpa pohon, terkena sayap burung atau kelelawar, kerangka layang-layang yang menempel atau lengket di jaringan, tiang TV yang roboh dan kena jaringan, fuse (pengaman/sekering) tegangan menengah putus, dan lain sebagainya. Proteksi yang digunakan adalah:

• Lightning Arrester adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang berfungsi sebagai pengaman terhadap tegangan surja yang terjadi ketika terjadi sambaran petir. Sambaran petir pada jaringan hantaran udara sistem tenaga listrik merupakan suntikan muatan listrik yang menimbulkan kenaikan tegangan sesaat yang cukup besar pada jaringan. Agar tegangan lebih tersebut tidak merusak isolasi peralatan pada jaringan, maka dipasang pelindung yang akan mengalirkan surja petir tersebut ke tanah.

• Isolator  mempunyai peranan penting untuk mencegah terjadinya aliran arus dari konduktor phasa ke bumi melalui menara pendukung (tiang). Dengan demikian,  isolator merupakan proteksi dalam sistem transmisi energi listrik.

Gangguan Pada Distribusi atau JTR.

Gangguan tegangan rendah atau distribusi yang sering ada seperti tidak setabilnya tegangan listrik, kendornya sambungan, kabel terseret oleh mobil besar seperti truk atau bis, tiang ditabrak mobil, kabel meleleh karena terlalu panas, tertimpa pohon dan lain sebagainya.Proteksi yang digunakan adalah:

• Fuse Cut Out (FCO)Cut out biasanya digunakan pada jaringan distribusi 20 kV untuk proteksi trafo distribusi dari arus lebih akibat hubung singkat, dan juga diletakkan pada percabangan untuk proteksi jaringan. Prinsip kerjanya adalah ketika terjadi gangguan arus maka fuse pada cut out akan putus, seperti yang ada pada SPLN 64 tabung ini akan lepas dari pegangan atas, dan menggantung di udara, sehingga tidak ada arus yang mengalir ke Trafo.

• Sekring Gardu / Pelebur TR biasanya digunakan pada jaringan distribusi 20 kV untuk proteksi jaringan tegangan rendah (JTR) dari arus lebih akibat hubung singkat. Prinsip kerjanya adalah ketika terjadi gangguan arus maka fuse pada sekring akan putus, sehingga tidak ada arus yang mengalir ke jaringan tegangan rendah (JTR).

Gangguan Saluran Rumah (APP).

Gangguan yang sering terjadi berupa teganggan yang tidak setabil naik dan turunnya daya listrik, KWH meter rusak dan MCB lemah atau rusak. Poteksi yang digunakan adalah:

Miniature Circuit Breaker (MCB)Miniature circuite breaker atau MCB merupakan komponen listrik yang bekerja dengan sistem thermal atau panas. Didalamnya terdapat bimetal, dimana bila arus listrik yang mengalir melebihi ukuran tertentu (karena kelebihan beban atau terjadi hubung singkat) dari MCB ini, maka bimetal ini secara mekanis akan memutus aliran listrik dan menggerakkan tuas ke posisi “OFF”.

Secara umum fungsi MCB antara lain :
• Membatasi Penggunaan daya Listrik.

• Mematikan listrik secara otomatis apabila terjadi hubungan singkat.

• Membagi daya pada instalasi rumah menjadi beberapa bagian, sehingga lebih mudah untuk mendeteksi kerusakan instalasi listrik.

Senin, 06 Februari 2017

Jaringan Distribusi Listrik

Jaringan Distribusi Listrik
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar (bulk power source) sampai ke konsumen.         
Jadi fungsi distribusi listrik adalah:
1. Pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat (pelanggan).
2. Merupakan sub sistem tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan pelanggan, karena catu daya pada pusat-pusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan distribusi.
Tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik besar dengan tegangan dari 11 KV sampai 24 KV dinaikkan tegangannya oleh gardu induk dengan transformator penaik tegangan menjadi 70 KV, 154 KV, 220 KV atau 500 KV kemudian disalurkan melalui saluran transmisi. Tujuan menaikkan tegangan adalah untuk memperkecil kerugian daya listrik pada saluran transmisi, dimana dalam hal ini kerugian daya adalah sebanding dengan kuadrat arus yang mengalir. Dengan daya yang sama bila nilai tegangannya diperbesar, maka arus yang mengalir semakin kecil sehingga kerugian daya juga akan kecil pula.
Dari saluran transmisi, tegangan diturunkan lagi menjadi 20 KV dengan transformator penurun tegangan pada gardu induk distribusi, kemudian dengan sistem tegangan tersebut penyaluran tenaga listrik dilakukan oleh saluran distribusi primer. Dari saluran distribusi primer inilah gardu-gardu distribusi mengambil tegangan untuk diturunkan tegangannya dengan trafo distribusi menjadi sistem tegangan rendah, yaitu 220/380 Volt. Selanjutnya disalurkan oleh saluran distribusi sekunder ke konsumen-konsumen. Dengan ini jelas bahwa sistem distribusi merupakan bagian yang penting dalam sistem tenaga listrik secara keseluruhan. Konfigurasi sistem tenaga listrik dapat dilihat pada gambar berikut.
Berdasarkan gambar di atas, maka dapat dikelompokkan dalam beberapa pembagian sebagai berikut:
1.      Daerah I     :  bagian pembangkitan (generation).
2.      Daerah II    :  bagian penyaluran (transmission) bertegangan tinggi (HV, UHV, dan EHV).
3.      Daerah III   :  bagian distribusi primer bertegangan menengah (6, 12, atau 20 KV).
4.      Daerah IV   :  bagian distribusi sekunder bertegangan rendah.
Berdasarkan pembagian tersebut, maka diketahui bahwa sistem distribusi listrik terdapat pada daerah III dan IV, yang pada dasarnya dapat diklasifikasikan menurut beberapa cara, bergantung dari segi apa klasifikasi itu dibuat. Dengan demikian ruang lingkup jaringan distribusi adalah sebagai berikut:
1. SUTM, terdiri dari tiang dan peralatan kelengkapannya, konduktor dan peralatan perlengkapannya, serta peralatan pengaman dan pemutus.
2. SKTM, terdiri dari kabel tanah, terminasi dalam dan luar ruangan, dan lain-lain.
3. Gardu trafo, terdiri dari transformator, tiang, pondasi tiang, rangka tempat trafo, panel, pipa-pipa pelindung, arrester, kabel-kabel, pengikat transformator, peralatan pertanahan, dan lain-lain.
4. SUTR dan SKTR, sama dengan perlengkapan/material pada SUTM dan SKTM, yang membedakan hanya dimensinya.
Menurut nilai tegangannya, saluran tenaga listrik atau saluran distribusi dapatdiklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Saluran distribusi primer, terletak pada sisi primer trafo distribusi, yaitu antara titik sekunder trafo cabang (gardu induk) dengan titik primer trafo distribusi. Saluran ini bertegangan menengah 20 KV. Jaringan listrik 70 KV atau 150 KV, jika langsung melayani pelanggan, bisa disebut jaringan distribusi.
Sistem distribusi primer digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik dari gardu induk distribusi ke pusat-pusat beban. Sistem ini dapat menggunakan kabel udara maupun kabel tanah sesuai dengan tingkat keandalan yang diinginkan dan kondisi serta situasi lingkungan. Saluran distribusi ini direntangkan sepanjang daerah yang akan disuplai tenaga listrik sampai ke pusat beban.
Terdapat bermacam-macam bentuk rangkaian jaringan distribusi primer, yaitu:
a.       Jaringan distribusi radial.
b.      Jaringan distribusi ring (loop), dengan model: bentuk lingkaran terbuka dan bentuk lingkaran tertutup.
c.       Jaringan distribusi jaring-jaring (network).
d.      Jaringan distribusi spindel.
e.       Saluran radial interkoneksi.
2.      Saluran distribusi sekunder, terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu antara titik sekunder dengan titik cabang menuju beban.
Sistem distribusi sekunder digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik dari gardu distribusi ke beban-beban yang ada di konsumen. Pada sistem distribusi sekunder bentuk saluran yang paling banyak digunakan ialah sistem radial.
Sistem ini dapat menggunakan kabel yang berisolasi maupun konduktor tanpa isolasi. Sistem ini biasanya disebut sistem tegangan rendah yang langsung akan dihubungkan kepada konsumen/pemakai tenaga listrik dengan melalui peralatan-peralatan sebagai berikut:
a.       Papan pembagi pada trafo distribusi.
b.      Hantaran tegangan rendah (saluran distribusi sekunder).
c.       Saluran Layanan Pelanggan (SLP) ke konsumen/pemakai.
d.      Alat Pembatas dan pengukur daya (KWH meter) serta fuse atau pengaman pada pelanggan.
Jaringan distribusi listrik secara umum dibedakan menjadi empat bagian utama:
1. Jaringan Tegangan Menengah (JTM), yang berfungsi sebagai penyulang (feeder) tegangan menengah yang keluar dari gardu induk (GI) untuk kemudian mensuplai gardu-gardu distribusi.
2. Trafo distribusi (gardu distribusi), yang berfungsi sebagai penurun tegangan dari tegangan menengah ke tegangan rendah.
3. Jaringan Tegangan Rendah (JTR), yaitu penyulang tegangan rendah setelah keluar dari gardu distribusi.
4. Sambungan Rumah (SR) & Alat Pembatas dan Pengukur (APP), yaitu sambungan pelayanan dari JTR ke setiap rumah sampai dengan APP.
Dalam sistem distribusi, masalah yang utama adalah mengatasi gangguan karena jumlah gangguan dalam sistem distribusi adalah relatif lebih banyak dibandingkan dengan jumlah gangguan pada bagian sistem yang lain.
Di samping itu masalah tegangan, bagian-bagian instalasi yang berbeban lebih dan rugi-rugi daya dalam jaringan merupakan masalah yang perlu dicatat dan dianalisa secara terus menerus, untuk dijadikan masukan bagi perencanaan pengembangan sistem dan juga untuk melakukan tindakan-tindakan penyempurnaan pemeliharaan dan penyempurnaan operasi sistem distribusi.

Minggu, 05 Februari 2017

Parameter Yang Harus Diperhatikan Dalam Pengoperasian Ketel Uap

Parameter Yang Harus Diperhatikan Dalam Pengoperasian Ketel Uap
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Parameter yang harus diperhatikan dalam pengoperasian ketel uap ( boiler) antara lain sebagai berikut :
Kualitas air
Air sebagai bahan pengisi ketel uap untuk di panasi menjadi uap, maka harus diperhatikan kandungan – kandungan yang terlarut di dalam air untuk mencegah terjadinya pengrusakan terhadap ketel uap, misalnya pengerakkan, pengaratan, yang bisa menyebabkan kejadian fatal seperti ledakan. Air untuk mengisi ketel uap dapat berasal dari :
a. Air yang dihasilkan dari dalam pabrik, berupa air embun yang keluar dari pemanasan.
b.  Air yang berasal dari alam, seperti air sungai
Keburukan karena kualitas air akan menyebabkan :
a. Pengerakkan
b. Logam – logam menjadi aus karena korosi
c. Terbawanya air dalam uap
Aliran uap ( Steam Flow )
Yaitu banyaknya uap yang harus dihasilkan boiler pada tingkat pengoperasian tertentu. Pengoperasian pada MCR (Maximum Continous Rating) merupakan pengoperasian boiler pada tingkat aliran uap maksimum yang bisa dijalankan secara berkelanjutan.Jika melebihi tingkat ini bisa merusak peralatan ataupun meningkatkan biaya perawatan.
Control Load untuk beban penuh aliran uap sekitar 48% dan sekitar 47 % untuk aliran uap pada tingkat MCR. Control load merupakan titik dimana suhu uap utama maupun uap pemanasan ulang telah mencapai titik desain kerjanya ( kondisi stabil ).
Tekanan Boiler
Untuk mendapatkan energi yang sesuai dengan kebutuhan turbin agar dapt menggerakkan generator,maka tekanan uap panas kering yang dihasilkan pun harus sesuai dengan kebutuhan beban.Dalam hal ini ,tekanan uap dapat diatur melalui reheater dan superheater.
Temperatur Uap
Dalam proses konversi wujud dari cair menjadi uap,air perlu dipanaskan dalam furnace.Panas yang dihasilkan dari proses pembakaran dalam furnace tersebut juga harus diperhatikan agar suhu uap yang dihasilkan memenuhi standar yang ditentukan.Karena jika suhu uap kurang maka efisiensi akan turun tapi jika terlalu tinggi akan berpengaruh pada gas buangnya.
Efisiensi Boiler
Untuk melihat apakah desain suatu boiler telah tepat ditentukan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi,diantaranya kegunaan unit boiler itu sendiri yaitu apakah uap yang harus dihasilkan konstan atau bervariasi sesuai kebutuhan generator pembangkit listrik. Selanjutnya yang menentukan juga adalah jenis dan kualitas bahan bakar yang akan dibakar : apakah padat,cair atau gas.Seberapa banyak uap harus dihasilkan tiap jamnya apakah ratusan atau bahkan jutaan pon tiap jamnya juga perlu dipertimbangkan dalam desain.
Pembentukan uap yang dipengaruhi penyerapan panas harus memenuhi setidaknya komponen berikut ini :
1. Tekanan kerja tiap bagian dari boiler,hal ini penting untuk distribusi dan     pemenuhan kebutuhan sistem dalam proses pengubahan air menjadi uap.
2. Struktur power plant yang tepat untuk tipe proses pembakaran yang dipilih.
3. Ukuran yang tepat dan pengaturan permukaan perpindahan panas untuk  penyerapan panas saat proses pembakaran.
4. Perlengkapan yang dibutuhkan selama proses .Alat untuk memasukkan     udara, bahan bakar dan mengalirkan air.Piranti untuk memindahkan hasil pembakaran dan sistem pengendalian proses.
Permukaan penyerapam panas boiler dirancang untuk efisiensi dan biaya     yang optimum agar empat tujuan dasar boiler tercapai yaitu :
1. Uap kering yang dihasilkan memilki tingkat kemurnian yang tinggi  dalam keadaan apapun.
2. Pemanasan super terhadap uap kering sementara menjaga suhu tidak  melebihi dari kondisi operasional boiler.
3. Pemanasan ulang terhadap uap yang tekanannya turun untuk digunakan kembali oleh turbin sementara menjaga suhu tidak melebihi dari kondisi operasional boiler.
4. Mengurangi suhu gas buang untuk meminimalkan rugi-rugi panas , mengendalikan korosi dan menghasilkan emisi yang tidak melebihi ketentuan.
Efisiensi termal adalah indikator seberapa baik kemampuan input panas boiler untuk menghasilkan uap pada suhu dan tekanan yang diminta. Adanya prinsip ekonomi dan biaya bahan bakar membuat powerplant harus beroperasi seefisien mungkin. Unit 5 dan 6 didesain dengan efisiensi 92,5 – 93,5 % tergantung kondisi operasional boiler ,pada MCR, normal full load atau pada control load conditions. Untuk membandingkan performance boiler pada kondisi sekarang dengan kondisi desain awal nya ada tiga parameter yang bisa diperiksa.
Fuel analysis
Analisa ini dilakukan untuk mengatuhi kandungan oksigen ,hidrogen dan karbon yang terdapat dalam bahan bakar yang digunakan.Karena kualitas bahan bakar dulu dengan sekarang bisa sangat berbeda. Perbedaan ini berpengaruh terhadap kebutuhan udara dan panas yang dilepaskan di ruang bakar ,begitu juga dengan massa aliran gas buang yang meninggalkan ruang bakar.
Feedwater temperature
Perubahan suhu air yang masuk ke boiler menentukan tingkat pembakaran yang diperlukan di furnace ,lebih lanjut akan mempengaruhi panas yang dihasilkan dan banyaknya massa aliran.
Excess Air
Banyaknya udara yang masuk ruang bakar berpengaruh terhadap jumlah panas yang dibawa dari furnace ( dry gas loss ) , banyaknya udara yang keluar merupakan faktor penting untuk menghitung efisiensi boiler.

Sabtu, 04 Februari 2017

Crusher

Crusher
Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Crusher berfungsi untuk memecahkan batuan alam menjadi ukuran yang lebih kecil sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Selain memisahkan batuan hasil pemecahan dengan menggunakan saringan atau screen.
Crusher terdiri dari beberapa bagian yaitu crusher primer, crusher sekunder, crusher tersier. Setelah batuan diledakan, batuan dimasukan kedalam crusher primer. Hasil dari crusher primer dimasukan kedalam sekunder untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Bila hasil crusher sekunder belum memenuhi spesifikasi yang ditetapkan maka batuan diolah kembali di crusher tersier dan seterusnya.
Peralatan penghancur zat padat dibagi atas mesin pemecah (crusher)¸mesin giling (grinder), mesin giling ultrahalus (ultrafine grinder) dan mesin potong (cutting machine) . Mesin pemecah bertugas melakukan kerja berat memecah bongkah bongkah besar menjadi kepingan-kepingan kecil.
Mesin pemecah primer digunakan untuk mengerjakan bahan mentah hasil tambang dan dapat menampung segala macam yang keluar dari muka tambang dan memecahkannya menjadi kepingan – kepingan antara 6-10 inchi.
Mesin pemecah sekunder bertugas untuk memecahkan lagi kepingan-kepingan menjadi partikel yang ukurannya, barangkali 0.25 inchi .Untuk pemecah secara komersil dalam ukuran of masses of solids 1 ft atau lebih, berdiameter sampai dengan 200-mesh, setidaknya akan melalui 3 tahapan berdasarkan tipe mesinnya.
3 stage yang dilalui adalah :
- Coarse size reduction ( reduksi ukuran kasar ) : umpan 2-96 in
- Intermediate size reduction (reduksi ukuran intermedium) : umpan 1-3 in
- Fine size reduction ( reduksi ukuran halus) : umpan 0.25-0.5 in
Jaw crusher
Jaw crusher diperkenalkan oleh Blake dan Dodge ,  dan beroperasi dengan menerapkan penghancur bertekanan. Merupakan salah satu peralatan pemecah batu yang paling terkenal di dunia. Jaw Crusher sangat ideal dan sesuai untuk penggunaan pada saat penghancuran tahap pertama dan tahap kedua. Memiliki kekuatan anti-tekanan dalam menghancurkan bahan paling tinggi hingga dapat mencapai 320Mpa.
Keuntungan stone crusher model jaw crusher ini antara lain :
1. Struktur sangat sederhana sehingga perawatannya mudah.
2. Kapasitas yang fleksibel.
3. Proteksi dari over load.
4. Efisiensi tinggi dan biaya operasi yang rendah.
5. Hasil akhir partikel dan rasio hancur yang baik
Untuk pengolahan mineral pertambangan, jaw crusher dapat digunakan untuk pengolahan menghancurkan bauksit, bijih tembaga, bijih emas, bijih besi, bijih timah, mangan, bijih perak, bijih seng, alunite, aragonit, arsenik, aspal, ball clay, barit, basal, bentonit, kokas, beton, dolomit, feldspar, granit, kerikil, gipsum, kaolin, batu kapur, marmer, kuarsa, pasir silika, dll.  Sering digunakan sebagai peralatan pengolahan primer, sehingga jaw crusher dianggap memiliki kelebihan dalam pemeliharaan mudah dan baik untuk instalasi.
Jaw crusher dapat mencapai rasio 4-6 dan menghancurkan bentuk produk akhir. Mereka banyak diterapkan untuk menghancurkan kekerasan tinggi, kekerasan pertengahan dan batu lunak dan bijih seperti terak, bahan bangunan, marmer, dll.  Kekuatan resistensi tekanan di bawah 350 Mpa, yang, cocok untuk menghancurkan primer.  Jaw crusher bisa digunakan dalam kimia pertambangan, industri metalurgi, konstruksi, jalan dan bangunan kereta api, kemahiran, dll.
Prinsip Kerja Mesin Jaw Crusher:
Jaw Crusher bekerja mengandalkan kekuatan motor . Melalui roda motor, poros eksentrik digerakkan oleh sabuk segitiga dan slot wheel untuk terdiri dari jaw plate, jaw plate yang bergerak dan side-lee board dapat dihancurkan dan diberhentikan membuat jaw plate bergerak seirama. Oleh karena itu, material dalam rongga penghancuran yang melalui pembukaan pemakaian.
Kerja alat ini adalah dengan menggerakan salah satu jepit, sementara jepit yang lain diam. Tenaga yang dihasilkan oleh bagian yang bergerak mampu menghasilakn tenaga untuk menghancurkan batuan yang keras. Kapasitas jaw crusher ditentukan oleh ukuran crusher.
Alat pemecah rahang ini terutama dipakai untuk memecah bahan olahan berupa bijih-bijih atau batu-batu. Bahan olahan ini ini dipecah diantara dua rahang besi atau baja. Konstruksinya mempunyai sepasang rahang yang satu diam dan yang satunya bergerak maju mundur ( bolak-balik ). Proses pemecahan bahan olahan dari pemecah rahang ini berlangsung berkala dengan cara tekanan & potongan.
Jaw crusher ada 2 jenis, yaitu:
1. Jaw crusher system blake ( titik engsel diatas )
2. Jaw crusher system dodge ( titik engsel dibawah )
-  “Sistem Blake” dengan ciri-ciri titik engsel di atas, bagian bawah bergerak mundur maju
CARA KERJA :
Suatu eksentrik menggerakkan batang yang dihubungkan dengan dua toggle, togel yang satu dipakukan pada kerangka dan satu lagi ke rahang ayun. Titik pivat terletak pada bagian atas rahang gerak atau diatas kedua rahang pada garis tengah bukan rahang. Pada system ini, umpan dimasukkan kedalam rahang berbentuk V yang terbuka ke atas.
Satu rahang tetap dan tidak bergerak, sedangkan rahang yang satu lagi membuat sudut 20 derajat – 30 derajat dan dapat bergerak maju mundur yang digerakkan oleh sumbu eksentrik, sehingga memberikan kompresi yang besar terhadap umpan yang terjepit diantara dua rahang. Muka rahang ini mempunyai alur dangkal yang horizontal.
Umpan besar yang terjepit antara bagian atas rahang dipecah dan jatuh keruang bawahnya yang lebih sempit dan dipecah. Pada mesin ini baut pecah yang berfungsi sebagai penahan apabila terdapat material solid dengan ukuran yang lebih besar dan keras maka dia akan pecah dengan sendirinya tetapi tidak akan merusak keseluruhan dari pada alat jaw crusher.

Alat Bantu Boiler Dan Turbin

Alat Bantu Boiler Dan Turbin
Alat bantu boiler
1. Indust Draft Fan (IDF) berfungsi untuk menghisap gas sisa pembakaran (flue gas) dari boiler menuju cerobong (stack) dan sekaligus membuat tekanan boiler menjadi minus/vacum.
2. Force Draft Fan (FDF) yaitu suatu alat yang berfungsi untuk mengahasilkan udara pembakaran dengan cara mendorong udara luar menuju ke ruang bakar yang sebelumnya dipanasi terlebih dahulu oleh Secondary Air Heater (SAH).
3. Primary Air Fan (PAF) yaitu suatu alat yang berfungsi menghasilkan udara untuk menghembuskan batu bara yang dihaluskan di Mill Pulverizer menuju ke ruang bakar . Sebelum udara dipakai terlebih dahulu  dipanasi oleh Primery Air Heater ( PAH ) dan temperaturnya dikontrol oleh Control Dumper (Inlet Guide Fan). Heater ini juga memanfaatkan gas buang (flue gas).
4. Seal Air Fan (SAF) yaitu alat yang berfungsi menghasilkan udara sebagai udara perapat yang digunakan pada Coal Feeder, Mill Pulperizer dan acces udara pada boiler.
5. Mill Pulverizer yaitu suatu alat yang berfungsi untuk menghaluskan batu bara hingga  menjadi serbuk halus (tepung batubara) sebelum dihembuskan oleh udara primary menuju ruang pembakaran.
6. Coal Feeder yaitu suatu alat yang berfungsi untuk mengatur laju aliran ( Flow ) batu bara dari Coal Banker menuju Mill Pulverizer.
7. Economizer adalah preheater feedwater berfungsi  untuk meningkatkan temperatur air (pemanasan awal) sebelum masuk ke boiler untuk selanjutnya dialirkan ke steam drum, dengan memanfaatkan gas buang (flue gas) sebagai media pemanas. Komponen ini berada dalam boiler yang terdiri dari rangkaian pipa-pipa  (tubes) yang menerima air dari inlet.
8. Drum Boiler adalah suatu alat pemisah antara uap dan air, dengan bantuan separator uap dipisahkan menuju saluran pemanas lanjut, sedangkan air disalurkan lagi menuju pipa-pipa boiler .
9. Mini boiler adalah pepmbuat uap untuk start awal yang digunakan untuk membantu proses sirkulasi air dan uap menggunakan bahan bakar HSD dan bilamana sudah mendapatkan uap dari boiler mini boiler ini dimatikan.
Alat bantu Turbin
1. Condensate Extarction Pump ( CEP ) adalah suatu alat yang berfungsi untuk memompakan air condensate dari hot wel menuju Deaerator,dengan melewati preheater atau pemanas awal yang ada di gland steam condenser dan low pressure heate ( LPH ).
2. Boiler Feed Pump (BFP ) adalah pompa pengisi boiler yang memompakan air dari Deaerator,melewati pemanas awal pada High Pressure Heater ( HPH ) Menuju Economizer dan selanjutnya ke Drum Boiler.
3. Cooling Water Pump ( CWP ) adalah circulating pump yang memompakan air pendingin (cooling water) yang telah di dinginkan oleh cooling tower fan menuju condensor,selanjutnya setelah mengambil panas dari condensor air pendingin menuju cooling tower lg untuk di buang panasnya dan di pompakan lg oleh CWP menuju condensor lagi.
4. Vacum Pump adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengisap udara atau gas yang ada di dalam condensor agar tekanan menjadi kurang dari nol ( vacuum )
5. Open loop Auxiliary Cooling Water Pump (OACWP ) adalah pompa air pendingin yang berfungsi untuk memompakan air pendingin menuju close loop,generator cooller dan oil cooler
6. Close loop Auxiliary Coling Water Cooller ( CACWP ) adalah pompa air pendingin ( dgn menggunakan air demin ) yang berfungsi sebagai pendingin oil cooler compressor,oil cooler BFP,seal water Vacum Pump,oil cooler bearing draft sistem,oil cooler bearing motor mill pulverizer,dll.  Sistem transfer heatnya setelah di gunakan mendinginkan alat alat bantu tersebut air menuju exchanger dan panas air close loop di transferkan ke air open loop.
7. Control dan Service Compressor adalah alat bantu yang berfungsi sebagi penyedia udara control untuk menggerakkan valve – valve pneumatic,serta penyedia udara service untk keperluan cleaning.
8. Kondensor adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengkondensasikan  uap bekas dari turbin menjadi air. Kondensor terbuat dari plat baja berbentuk silinder yang diletakkan secara mendatar dan didalamnya dipasang pipa-pipa pendingin yang terbuat dari kuningan paduan.

Jumat, 03 Februari 2017

Polutan - Polutan Dari Proses Pembakaran Batu Bara

Polutan - Polutan Dari Proses Pembakaran Batu Bara

Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Polutan-polutan penting yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara antara lain adalah SO2, NOx, CO, dan material partikulat. Selain itu ada bahan polutan lain yang disebut udara beracun. Ia adalah polutan yang sangat berbahaya meskipun jumlahnya hanya sedikit dihasilkan oleh pembakaran batubara.

Namun udara beracun ini perlu kita bahas juga lebih lanjut karena sifatnya yang sangat membahayakan kesehatan manusia. Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai polutan-polutan tersebut:


Sulfur Dioksida

Batubara memiliki kandungan sulfur yang dapat mencapai 10% dalam fraksi berat. Namun rata-rata kandungan sulfur di dalam batubara berada di kisaran 1-4% tergantung dari jenis batubara tersebut. Proses pembakaran batubara menyebabkan sulfur tersebut terbakar dan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) dan sebagian kecil menjadi sulfur trioksida (SO3).

Secara langsung, sulfur oksida dapat menyebabkan iritasi pada alat pernapasan manusia, mengurangi jarak pandang kita, sekresi muskus berlebihan, sesak napas, dan lebih lanjut dapat menyebabkan kematian. Reaksi sulfur oksida dengan kelembaban ataupun hujan, dapat menimbulkan hujan asam yang sangat berbahaya bagi tanaman, hewan terutama hewan air, serta sifatnya yang korosif dapat merusak infrastruktur-infrastruktur yang ada.

Sulfur Trioksida

Sebagian kecil sulfur dioksida yang terbentuk pada pembakaran batubara, terkonversi menjadi sulfur trioksida (SO3). Rata-rata SO3 terbentuk sebanyak 1% dari total gas buang pembakaran. Satu sistem pada boiler yang berfungsi untuk mengontrol gas buang NOx, memiliki efek samping meningkatkan pembentukan SO3dari 0,5% sampai 2%. SO3 sangat mudah bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat (H2SO4) pada temperatur gas buang di bawah 260oC. Seperti yang Anda ketahui bahwa asam sulfat bersifat amat sangat korosif dan berbahaya.

SO3 memiliki sifat higroskopis yang sangat agresif. Higroskopis adalah sebuah sifat untuk menyerap kelembaban dari lingkungan sekitarnya. Sebagai gambaran untuk Anda, SO3 yang mengenai kayu ataupun bahan katun dapat menyebabkan api seketika itu juga. Kasus ini terjadi karena SO3 mendehidrasikan karbohidrat yang ada pada benda-benda tersebut.

Polutan ini juga sangat jelas berbahaya bagi manusia, karena apabila terkena kulit, kulit tersebut akan seketika mengalami luka bakar yang serius. Atas dasar inilah polutan SO3 harus ditangani dengan sangat serius agar tidak mencemari lingkungan sekitar.

Nitrogen Oksida

Nitrogen Oksida yang dihasilkan oleh pembakaran batubara biasa disebut dengan NOx. NOx meliputi semua jenis senyawa yang tersusun atas atom nitrogen dan oksigen. Nitrat oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NOx) menjadi penyusun utama dari polutan ini.

NO, yang paling banyak jumlahnya, terbentuk pada pembakaran bertemperatur tinggi hingga dapat mereaksikan nitrogen yang terkandung pada bahan bakar dan/atau udara, dengan oksigen. Jumlah dari NOxyang terbentuk tergantung atas jumlah dari nitrogen dan oksigen yang tersedia, temperatur pembakaran, intensitas pencampuran, serta waktu reaksinya.

Bahaya polutan NOx yang paling besar berasal dari NO2, yang terbentuk dari reaksi NO dengan oksigen. Gas NO2 dapat menyerap sprektum cahaya sehingga dapat mengurangi jarak pandang manusia. Selain itu NOx dapat mengakibatkan hujan asam, gangguan pernapasan manusia, korosi pada material, pembentukan smogdan kerusakan tumbuhan.

Karbon Monoksida

Gas yang tidak berwarna dan juga tidak berbau ini terbentuk dari proses pembakaran yang tidak sempurna. Karbon monoksida (CO) dihasilkan dari proses pembakaran batubara di boiler dalam jumlah yang relatif sangat kecil. Bahaya paling besar yang diakibatkan oleh CO adalah pada kesehatan manusia dan juga hewan.

Jika gas CO terhirup, ia akan lebih mudah terikat oleh hemoglobin darah daripada oksigen. Hal ini menyebabkan tubuh akan kekurangan gas O2, dan jika jumlah CO terlalu banyak akan dapat menyebabkan penurunan kemampuan motorik tubuh, kondisi psikologis menjadi stress, dan paling parah adalah kematian.

Abu (Fly Ash)

Hasil pembakaran batubara di boiler juga menghasilkan partikel-partikel abu dengan ukuran antara 1 hingga 100 μm. Abu tersebut mudah terlihat oleh mata kita, bahkan dapat mengganggu jarak pandang jika tersebar di udara bebas. Selain itu fly ash sangat berbahaya jika sampai terhirup oleh manusia, karena ia dapat melukai bagian-bagian penting sistem pernapasan kita.

Fly ash tersusun atas beberapa senyawa padat, diantaranya adalah SiO2, Al2O3, Fe2O3, dan CaO. Di samping itu, fly ash juga mengandung logam-logam berat dan partikel-partikel lain yang sangat beracun bagi manusia jika berada dalam jumlah yang cukup. Racun-racun tersebut berasal dari batubara, diantaranya adalah arsenik, berilium, cadmium, barium, chromium, tembaga, timbal, mercury, molybdenum, nikel, radium, selenium, thorium, uranium, vanadium, dan seng.

Karbon Dioksida

Sejak tahun 1980-an, efek dari meningkatnya jumlah emisi CO2 akibat ulah manusia semakin diperhatikan. CO2yang dikenal dengan sebutan gas rumah kaca, menjadi satu dari beberapa gas buang yang mengakibatkan terjadinya global warming (pemanasan global). CO2selalu dihasilkan oleh semua jenis proses pembakaran yang menggunakan bahan bakar fosil berbasis hidrokarbon.

Menangani emisi CO2 tidak semudah menangani emisi gas buang lainnya, seperti SO2 misalnya. Karena jumlah produksi CO2 dari proses pembakaran yang secara alamiah selalu berjumlah banyak. Salah satu metode paling efektif untuk mengurangi pembentukan CO2adalah dengan memperbaiki tingkat efisiensi dari proses pembakaran (energi yang lebih banyak dari bahan bakar yang lebih sedikit).

Saat ini metode-metode untuk mengurangi jumlah penggunaan bahan bakar karbon untuk menghasilkan energi yang lebih besar terus dikembangkan.

Kamis, 02 Februari 2017

Definisi Indeks Kinerja Pembangkit Listrik

Definisi Indeks Kinerja Pembangkit Listrik

Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Berikut adalah definisi dari indeks kinerja yang sering dijumpai pada lingkup perencanaan dan pengendalian operasi di seluruh industri pembangkitan listrik.

Availability Factor (AF) adalah rasio antara jumlah jam unit pembangkit siap beroperasi terhadap jumlah jam dalam satu periode tertentu. Besaran ini menunjukkan prosentase kesiapan unit pembangkit untuk dioperasikan pada satu periode tertentu.

Equivalent Availability Factor (EAF) adalah ekivalen Availability Factor yang telah memperhitungkan dampak dari derating pembangkit.

Service  Factor (SF) adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit beroperasi terhadap jumlah jam dalam satu periode tertentu. Besaran ini menunjukkan prosentase jumlah jam unit pembangkit beroperasi pada satu periode tertentu.

Planned Outage Factor (POF) adalah rasio jumlah jam unit pembangkit keluar terencana (planned outage) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan prosentase kondisi unit pembangkit akibat pelaksanaan pemeliharaan, inspeksi dan overhoul pada suatu periode tertentu.

Maintenace Outage Factor (MOF) adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar terencana (Maintenace outage) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan prosentase kondisi unit pembangkit akibat pelaksanaan perbaikan, pada suatu periode tertentu.

Scheduled Outage Factor (SOF) adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar terencana (planned outage dan maintenance outage) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan prosentase kondisi unit pembangkit akibat pelaksanaan pemeliharaan, inspeksi dan overhoul pada suatu periode tertentu.

Unit Derating Factor (UDF) adalah rasio dari jumlah jam ekivalem unit pembangkit mengalami  derating terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan prosentase kondisi unit pembangkit akibat derating, pada suatu periode tertentu.

Reserve Shutdown Factor (RSF) adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar reserve shutdown (RSH) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan prosentase unit pembangkit reserve shutdown, pada suatu periode tertentu.
  
Forced Outage Factor (FOF) adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar paksa (FOH) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan prosentase kondisi unit pembangkit akibat FO, pada suatu periode tertentu.

Forced Outage Rate (FOR) adalah jumlah jam unit pembangkit dikeluarkan dari sistem (keluar paksa) dibagi jumlah jam unit pembangkit dikeluarkan dari sistem ditambah jumlah jam unit pembangkit beroperasi, yang dinyatakan dalam prosen.

Forced Outage Rate demand (FORd)adalah (f x FOH) dibagi [(f x FOH)+SH]. Besaran ini menunjukkan tingkat gangguan outage tiap periode operasi yang diharapkan.

Equivalent Forced Outage Rate (EFOR)adalah Forced Outage Rate yang telah memperhitungkan dampak dari derating pembangkit.

Equivalent Forced Outage Rate demand (EFORd) adalah [(fxFOH)+(fpxEFDH)] dibagi [(f x FOH) + SH]. Besaran ini menunjukkan tingkat gangguan outage dan derating tiap periode operasi yang diharapkan.

Net Capacity Factor (NCF) adalah rasio antara total produksi netto dengan daya mampu netto unit pembangkit dikali dengan jam periode tertentu (umumnya periode 1 tahun, 8760 atau 8784 jam).

Net Output Factor (NOF) adalah rasio antara total produksi netto dengan daya mampu netto unit pembangkit dikali dengan jumlah jam unit pembangkit beroperasi.

Plant Factor (PF) adalah rasio antara total produksi netto dengan perkalian antara DMN dan jumlah jam unit pembangkit siap dikurangi jumlah jam ekivalen unit pembangkit derating akibat forced derating, maintenance derating, planned derating, dan derating karena cuaca/musim.

Konversi Biogas Ke Listrik

Konversi Biogas Ke Listrik

Duniapembangkitlistrik.blogspot.com - Pemilihan sampah sebagai poin penting dalam konversi biogas ke listrik. Potensi sampah dan biomassa sudah  pasti ada di setiap daerah, karena setiap hari manusia secara natural selalu menghasilkan sampah demi memenuhi kebutuhannya.

Namun memang, potensi sampah dan biomassa di setiap daerah berbeda sebanding dengan jumlah penduduknya. Makin banyak jumlah penduduk di setiap daerah, potensi sampah dan biomassa yang dihasilkan makin besar pula.

Solusi yang diberikan oleh pemerintah daerah adalah landfill yaitu pembuangan sampah di suatu daerah yang disebut dengan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) serta pengolahan yang dilakukan secara ‘tidak efisien’.

Dikatakan demikian karena sampah – sampah organik dikumpulkan di TPA dan diharapkan terdegenerasi kembali ke tanah secara alami sedangkan sampah anorganik dikumpulkan lagi – lagi secara tidak efisien oleh pemulung.

Kekurangan dari landfill ini adalah dibutuhkannya lahan yang luas dan menggunungnya sampah organik karena penambahan sampah oleh manusia tidak sebanding dengan degenerasi sampah oleh bakteri – bakteri pengurai.

Selain itu berkaitan dengan global warming, penumpukan sampah dengan cara ini berpotensi menghasilkan gas methan (combustible gas) yang notabene menjadi salah satu penyebab potensi pemanasan global dan penipisan lapisan ozon.

Manajemen Pengelolaan Sampah

Masalah sampah sudah menjadi masalah global, dibuktikan oleh keluarnya protokol Kyoto yang mengikat semua negara agar dapat mengolah limbahnya dengan lebih serius. Pemerintah Indonesia setidaknya telah mengedarkan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah dan dimungkinkan untuk adanya Peraturan Perundangan lain yang dapat melengkapi Undang – Undang ini.

Ini menjadi bukti keseriusan pemerintah Indonesia dalam mengelola sampah dan sebagai langkah penting pemerintah dalam pembangunan lingkungan hidup yang lebih baik dengan diikuti oleh penerapan di lapangan yang tertib, berkesinambungan, dan berkelanjutan. Tinggal bagaimana regulasi manajemen pengelolaan sampah yang berupa Undang – Undang ini diterapkan di lapangan oleh seluruh aparat yang berkaitan dan masyarakat secara keseluruhan.

Regulasi pendukung seperti peraturan daerah dan pelaksanaan kompensasi secara tertib juga sangat penting dalam kaitannya dengan penerapan di tingkat daerah. Tanpa Peraturan Daerah dan pelaksanaan kompensasi secara tertib, tidak akan ada regulasi yang mengikat masyarakat, sehingga masyarakat merasa perlu untuk melakukan manajemen pengelolaan sampah ini dalam lingkup rumah tangga maupun lingkup yang lebih luas.

Dengan manajemen sampah, TPA bukan lagi menjadi tempat penampungan sampah melainkan akan menjadi tempat penampungan residu sampah yaitu sampah – sampah khusus yang karena sifat dan bahannya tidak bisa didaur ulang lagi, sampah organik, maupun sampah anorganik yang tidak bisa di daur ulang karena nilai ekonomisnya sangat rendah dan sulit untuk dimanfaatkan.

Untuk sampah – sampah khusus dibutuhkan teknologi tertentu untuk mengelolanya, sedangkan sampah organik dan anorganik yang ditampung sebenarnya memiliki potensi energi di dalamnya dengan penanganan tertentu. Teknologi yang kemudian ditawarkan untuk mengolah potensi ini adalah teknologi konversi energi.

Konversi Biogas

Sampah organik (termasuk didalamnya sisa makanan) dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi konversi sampah menjadi gas methan (combustible gas), lalu menjadi listrik yang disebut dengan biogas. Sedangkan sampah organik yang berupa biomassa dapat dikonversikan menjadi listrik dengan cara direct combustion yang dikenal dengan PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).

Secara alami, sampah organik dengan bantuan bakteri pengurai menghasilkan gas methan sebagai hasil sampingan dari kegiatan degenerasi penguraian sampah. Gas methan (combustible gas) ini menurut para peneliti, jika terbuang di alam berpotensi sebagai perusak lapisan ozon dan meningkatkan efek global warming. Untuk itulah menjadi penting pemanfaatan gas methan  menjadi listrik karena selain dapat mengurangi dampak pemanasan global, juga dapat menambah suplai listrik di daerah.

Secara umum, unsur dalam sampah yang dapat dimanfaatkan menjadi biogas adalah sebesar 69% yaitu 42% sampah organik dan 27% sampah sisa makanan (Mauliva,2009). Untuk mempercepat terjadinya biogas dalam proses fermentasi sampah organik, biasanya digunakan katalisator berupa penambahan bakteri pengurai sampah yaitu bakteri saprofit (wikipedia). Teknologi konversi biogas menjadi listrik yang digunakan misalnya adalah PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap) yang bekerja berdasar siklus kombinasi (siklus Rankine dan Brayton) yang merupakan sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan sejumlah panas terbuang (exhaust gas) di turbin gas PLTG yang temperaturnya relatif tinggi untuk menghasilkan uap pada turbin uap (Rais,2006).

Namun, teknologi konversi biogas ini masih terkendala terhadap isu ketahanan dan keawetan material yang digunakan karena biogas yang salah satu komposisinya adalah H2S (hidrogen sulfida) mengakibatkan bahan yang dilewatinya rentan terhadap korosi. Sehingga diperlukannya inovasi rekayasa teknologi material yang dapat berperan meningkatkan kekuatan material yang digunakan.

Dalam pengolahan sampah menjadi biogas, manajemen sampah dalam bentuk pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga sampai ke tingkat landfill menjadi sangat penting karena dengan manajemen yang baik, pengolahan sampah menjadi lebih fokus dan tertata secara efektif serta mempermudah pengambilan bahan untuk biogas yang berupa sampah residu (sampah organik).